Sabtu, 08 Februari 2020

KISAH FIR'AUN BIN RAMSES LAKNATULLAH 'ALAIH



Raja Firaun adalah Pemimpin Zalim Yang Allah SWT Binasakan dengan ditenggelamkannya di laut Merah.
Setiap manusia dimuka bumi ini pasti akan mendambakan Pemimpin (Apakah ia Presiden, Gubernur, Bupati/Walikota, Wakil Dewan, Camat, Kepala Desa dan lain sebagainya) yang dalam jiwanya mengalir nilai-nilai kemanusian, kebenaran dan keadilan. Pemimpin merupakan penentu hidup dan pola perilaku masyarakat yang dipimpinnya. Di tangan pemimpinlah warna kehidupan bangsa / Negara sangat tergantung. Jika seorang pemimpin adil, keadilan akan dengan sangat gampang merayap dalam tatanan kehidupan masyarakat.
Salah satu ciri pemimpin yang sangat mungkin untuk melakukan penyimpangan-penyimpangan adalah seorang pemimpin yang dengan sengaja dan ambisius berburu kekuasaan.

وَإِنَّ فِرْعَوْنَ لَعَالٍ فِي الأَرْضِ وَإِنَّهُ لَمِنَ الْمُسْرِفِينَ

“Dan sesungguhnya Fir’aun itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas “(Yunus: 83).
Fir’aun adalah Penguasa zalim yang namanya diabadikan dalam al-Qur’an oleh Allah SWT. Karena kezhalimannya sebagai Pemimpin hingga mengaku sebagai Tuhan, akhirnya ia ditenggelamkan Allah. Tak hanya itu, Bangkainya menjadi awet sampai sekarang dan menjadi pelajaran bagi orang-orang sesudahnya. Ada pelajaran yang dapat diambil manusia sesudahnya, Jangan berlaku zalim ketika jadi Pemimpin.

Kisah Firaun dalam kutipan ayat dimaksud adalah gambaran sosok Pemimpin zalim yang Allah murkai. Dalam diri Fir’aun terakumulasi semua sifat dan juga sikap yang merusak. Sikap sewenang-wenang yang melampaui batas adalah karakter merusak. Kesombongan, keangkuhan meliliti jiwanya.

Allah berfirman :

“Dan Fir’aun telah menyesatkan kaumnya dan tidak memberi petunjuk “(Thaha : 79).
Tidaklah heran jika Rasulullah SAW sering kali mengingatkan kepada umat Islam diseluruh dunia akibat yang akan diterima oleh para pemimpin yang zalim, seperti Fir’aun. Nabi Muhammad SAW bersabda : “Ada 4 golongan yang paling Allah benci : Pedagang yang banyak bersumpah, Orang fakir yang sombong, Orang tua yang berzina, dan seorang pemimpin (penguasa) yang zhalim” (HR. An-Nasai).

Pemimpin yang zalim senantiasa haus dan ambisius berburu kekuasaan. Perburuan yang dilakukannya bukan untuk kebaikan ummat dan bangsa, namun untuk kepentingan diri sendiri, kerabat, kelompok dan juga pendukungnya. (Hal ini menguatkan dan sebagai referensi tulisan sebelumnya).

Rasulullah SAW bersabda : “Janganlah kamu meminta jabatan dalam pemerintahan. Karena jika kamu diberi jabatan karena permintaanmu, maka bebanmu sungguh berat. Tetapi jika kamu diberi jabatan tanpa kamu minta, maka kamu, akan dibantu oleh orang banyak “(HR. Muslim).

Penguasa yang zalim yang Allah murka akan memiliki pemikiran pendek dan picik. Sebagaimana yang disebutkan dalam Alquran tentang Fir’aun:

“Dan berlaku angkuhlah Fir’aun dan bala tentaranya di bumi (Mesir) tanpa alasan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami”(Al-Qashash : 39).

Singkat cerita, Nabi Musa AS berdoa kepada Allah SWT untuk membinasakan Fir’aun Si Penguasa yang Zalim dan bala tentaranya dengan diaminkan oleh Nabi Harun AS. Kemudian Allah SWT mengabulkan doa keduanya.

“Musa berkata: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksaan yang pedih.” Allah berfirman: “Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua”.” (QS. Yunus: 88-89).

Fir’aun sebagai Pemimpin yang angkuh dihinakan oleh Allah. Atas petunjuk Allah SWT, Nabi Musa AS pergi meninggalkan kota Memphis menuju ke Laut Merah. Fir’aun dan bala tentara menyusul dari belakang. Setibanya di tepi Laut Merah, Allah perintahkan kepada Musa ‘alaihi salam untuk memukulkan tongkatnya ke laut, secepat kilat laut pun terbelah, bukan surut. Seketika itu juga, Nabi Musa dan pengikutnya menyeberang lautan yang terus terbelah sampai mereka semua selamat tiba di seberang. Setelah itu laut menutup menenggelamkan sang raja besar yang sombong.

Semoga Allah SWT menghadirkan pemimpin adil di tengah kita dan kita senantiasa berdoa agar menjauhkan pemimpin yang Allah murkai di Negeri yang kita tempati ini.
Amin Mujibatasyaa'iliin!.
Hal ini menjadi teguran jelas bagi kita semua wabilkhusus penulis karena pada hakikatnya menjadi seorang pemimpin itu bukan seperti halnya permainan yang kita mainkan sesuka hati kita akan tetapi seorang pemimpin itu bagaikan mata air bagi seluruh masyarakat dan rakyatnya yang, sangat membutuhkan hal tersebut.

"Ya Allah jadikanlah kami sebagai kaum laki-laki yang akan menjadi pemimpin keluarga kelak dari sifat yang bisa meregukikan keluarga kami kelak".
"Ya Allah, hindarkan hati ini dari meminta jabatan (memimpin) karena itu sangatlah berat, jikalau saja kami mengetahuinya.

"Ya Allah, hindarkan kami dari pemimpin yang dzolim beri mereka peringatan terlebih dahulu sebelum dia menjadi pemimpin kami nantinya, berikan jalan kepada yang lurus terhadap mereka yang telah berencana membuat kesengsaraan kami dan kemurkaan Mu.
"Ya Allah, Berikan kami seseorang pemimpin yang bisa mengabdi bersungguh-sungguh berjuang untuk rakyat dan masyarakat. Karena di akhir zaman ini tidak banyak lagi pemimpin pemimpin yang bisa amanah terhadap ucapan yang mereka lotarkan sebelum menduduki jabatan.

"Ya Allah, permudahkanlah setiap langkah yang didi kerjakan dandi di perjuangkan oleh pemimpin kami yang amanah serta yang benar-benar hanya mengabdi untuk kesejahteraan, ketentraman dan kemakmuran kami.

Amin Ya Rabbal Alamin....

Fir’aun di Zaman Nabi Musa As (1)


Nama Fir’uan, muncul sebanyak 74 kali dalam Alquran. Jumlah ini bahkan lebih banyak daripada Nabi Ibrahim As, yang disebut sebanyak 64 kali. Persoalannya, Fir’aun yang dihadapi Nabi Musa As, tidak disebutkan namanya secara gamblang baik dalam kisah Alquran maunpun Injil. Para ilmuwan dan ulama berdebat panjang mengenai persoalan ini.

Mungkin sebagian besar kaum Muslimin, dan penganut agama samawi umumnya, pernah mendengar kisah Nabi Musa As melawan kezhaliman Fir’aun. Hal ini sangat wajar, mengingat kisah ini disebutkan berulang-ulang di banyak surat dalam Alquran dan kitab suci lainnya. Di Alquran, tak kurang dari 26 surat yang menyebutkan nama kedua tokoh ini, bahkan sebagian besar surat Al-Qashash berisi kisah tentang Nabi Musa As dengan Fir’aun.[1] Tidak hanya dalam Alquran, kisah Nabi Musa As dan Firaun, bahkan banyak ditemui juga dalam kitab-kitab agama samawi lainnya, seperti Injil.

Tentang identitas Nabi Musa As, mungkin semua riwayat tidak ada perbedaan. Alquran dan kitab suci agama samawi lainnya sangat rinci menjelaskan perjalanan hidupnya. Tapi tentang sosok Fir’aun yang dihadapi Nabi Musa As, masih belum ada kesepakatan yang cukup bulat di antara para ulama, ilmuwan dan sejarawan tentang identitasnya. Padahal sosok ini demikian penting dalam sejarah agama umat manusia.

Di antara banyak tokoh yang disebut dalam Alquran, nama Nabi Musa As paling banyak disebut, yaitu sebanyak 136 kali. Adapun Fir’aun, disebutkan sebanyak 74 kali. Jumlah ini lebih banyak dari Nabi Nuh As yang disebut sebanyak 43 kali, atau Sayidah Maryam yang disebut sebanyak 34 kali; bahkan Fir’aun lebih banyak disebut daripada Nabi Ibrahim As, sebanyak 64 kali dalam Alquran.[2]
Persoalannya, Fir’aun yang dihadapi Nabi Musa As, tidak disebutkan namanya secara gamblang baik dalam kisah Alquran maunpun injil. Sejauh ini, sosoknya menjadi symbol atau contoh kesombongan pengusa yang lalim. Dari Fir’aun lah kita bisa mengenal bagaimana modus operansi penguasa di segala zaman melanggengkan kekuasaannya. Dalam Surat Al Qashash ayat: 4, Allah SWT berfirman: 

Sungguh, Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya terpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. sesunggunya Fir’aun termasuk orang yang berbuat kerusakan.” 

Sebagaimana kita saksikan dalam sejarah, semua pemimpin yang lalim selalu membuat rakyatnya terpecah belah, menindas sebagian di antara mereka dan meninggikan sebagian yang lain.
Persoalan lainnya, apakah semua Firaun yang pernah memerintah Mesir memiliki perilaku yang sama? Atau hanya sebagian di antaranya saja? Lalu, apakah Fir’aun yang dihadapi oleh Nabi Musa As adalah satu orang, ataukah beberapa? Pertanyaan ini wajar muncul, mengingat panjangnya durasi cerita tentang Nabi Musa dengan Fir’aun, mulai dari kelahirannya, pelariannya, hingga kedatangannya kembai ke Mesir.

Terkait pertanyaan pertama, sebuah artikel di http://www.islamic-awareness.org menyebutkan bahwa ada perbedaan antara Fir’aun yang dimaksud oleh Alquran dengan yang ada di Injil. Di Injil, semua raja-raja mesir yang memimpin pada periode Ibrahim, Yusuf dan Musa, semuanya disebut Fir’aun (Pharaoh). Sedangkan di Alquran, kata Fir’aun hanya disebutkan sebagai identitas raja yang memerintah pada masa Nabi Musa As. Adapun raja-raja yang memerintah pada periode Ibrahim dan Yusuf, Alquran menyebutnya dengan nama Malik (Raja). Jadi bisa dikatakan bahwa menurut Alquran, raja yang dimaksud sebagai contoh kekuasaan yang lalim tersebut adalah Fir’aun yang dihadapi oleh Nabi Musa As.[3]

Masih menurut Artikel yang sama, disebutkan bahwa menurut para peneliti modern, orang-orang Mesir menggunakan kata Pharaoh untuk menunjukkan rajanya baru dimulai pada Dinasti ke-18 dari 31 dinasti yang pernah memerintah Mesir.[4] Menurut kesepakatan para ilmuwan, Dinasti ke-18 yang memerintah Mesir, berlangsung dari tahun 1539 hingga 1077 SM. Kata ini kemudian dipakai seterusnya hingga periode Dinasti ke 25 dan 26 yang memerintah dari 1076 – 746 SM, yang diidentifikasi sebagai periode penurunan kejayaan Mesir Kuno. Setelah periode ini, Mesir kemudian diperintah oleh Persia dan kemudian Romawi.[5]

Terkait dengan hal tersebut, agaknya tidak mungkin era kepemimpinan Fir’aun yang bertemu Nabi Musa As berlangsung pada periode penurunan tersebut. Sebagaimana umumnya sebuah Dinasti, ada masa pertumbuhan, puncak kejayaan dan penurunan. Bila menyimak karakter kekuasaan Fir’aun yang disebut oleh Alquran, agaknya Fir’aun yang dimaksud muncul pada masa kejayaan Mesir, atau bahkan pada puncak kejayaan Mesir Kuno. Sehingga ia demikian sombongnya, bahwa mendaku dirinya sebagai Tuhan.
Periodesasi kepemimpinan Mesir Kuno Dinasti ke-18 hingga ke-20

Fir’aun di Zaman Nabi Musa As (2)


Bila merujuk pada Alquran, jelas sekali bahwa Fir’aun yang bertemu Nabi Musa hanya satu orang. Ucapan Fir’aun kepada Nabi Musa As dalam ayat 18 Surat Asy Syu’ara menunjukkan bahwa ia adalah figur yang sama, yang dahulu pernah mengasuh Nabi Musa As.”

Salah satu persoalan mendasar dari cara mengindentifikasi sosok Fir’aun pada masa Nabi Musa As, adalah kepastian tentang waktu dan kronologinya. Perdebatan para ilmuwan yang terlalu berlarut-larut terkait masalah ini, menjadikan studi tentang Mesir Kuno (Egyptology) tidak bergerak secara progresif. Menurut Pearce Paul Creasman, salah satu masalahnya, para arkeolog dan ilmuwan masih sungkan untuk mengawinkan berbagai perspektif ilmiah yang mereka miliki untuk mendeteksi bukti-bukti arkeologis tesebut.[1]

Salah satu langkah yang sangat maju pernah dilakukan oleh Bronk Ramsey dan kawan-kawan untuk menganalisa bukti arkelogis di Mesir, dengan menggunakan analisis penanggalan radiokarbon yang komprehensif dan canggih.[2] Hasilnya, mereka mampu dengan cukup presisi menentukan periodesasi kekuasaan setiap raja yang pernah memerintah Mesir dari Periode Kerajaan Baru (1539 – 1077 SM) atau dari Dinasti ke-18 hingga seterusnya. Hal lain yang cukup mengesankan, masyarakat Mesir kuno memulai penanggalan berdasarkan masa jabatan para rajanya. Sehingga upaya untuk mengindentifikasi periode kekuasaan setiap raja, cukup hanya dengan melakukan analisa melalui sample peti mati dan jenazah (mumi) mereka. Oleh sebab itu, analisa radiokarbon menjadi sangat berguna.

Hanya saja, sedikit kelemahan dari terobosan yang dilakukan Bronk Ramsey dkk, identifikasinya tidak valid 100%. Hampir mendekati, yaitu 95%, dengan kemungkinan mengalami distorsi sekitar 24 tahun. Persoalannya, kurun waktu 24 tahun tersebut agak sulit untuk membantu memastikan secara tepat Fir’aun yang bertemu dengan Nabi Musa As.[3] Mengingat masa pemerintahan seorang raja Mesir Kuno, menurut hasil penelitian Bronk Ramsey dkk, umumnya tak lebih dari 30 tahun. (Lihat Gambar)

Usia kekuasaan raja-raja yang memerintah Dinasti ke-18 dan ke-20 di Mesir. Sumber gambar: islamic-awareness.org
Bila merujuk pada hasil penelitian ini, sangat wajar bila kemudian muncul asumsi bahwa bukan tidak mungkin Nabi Musa bertemu beberapa Fir’aun dalam hidupnya. Dengan kata lain, Fir’aun yang bertemu Nabi Musa ketika bayi, berbeda dengan Fir’aun yang akhirnya tenggelam di Laut Merah.
Namun bila kita merujuk pada Alquran, jelas sekali bahwa Fir’aun yang dibertemu dengan Nabi Musa adalah satu orang. Hal ini terlihat pada Surat al-Qashash, ayat 7-9, Allah SWT berfirman:

“7. Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah Dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya Maka jatuhkanlah Dia ke sungai (Nil). dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena Sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari Para rasul; 8. Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir’aun yang akibatnya Dia menjadi musuh dan Kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir’aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah; 9. Dan berkatalah isteri Fir’aun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. janganlah kamu membunuhnya, Mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari.” (Al-Qashash: 7-9)

Pada ayat 8 Surat Al-Qashash tersebut jelas sekali bahwa anak yang dipungut oleh istri Fir’aun adalah orang yang kelak akan menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka. Pernyataan dalam Surat Al-Qashash ini kemudian terkonfirmasi oleh dalam Surat Asy Syu’ara: 18-22, yang berbunyi:

Fir’aun menjawab: “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu. Dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas guna”. Berkata Musa: “Aku telah melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf. Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu serta Dia menjadikanku salah seorang di antara rasul-rasul. Budi yang kamu limpahkan kepadaku itu adalah (disebabkan) kamu telah memperbudak Bani Israil“. (QS. Asy Syu’ara: 18-22)

Dengan demikian, bila merujuk pada Alquran, jelas sekali bahwa Fir’aun yang bertemu Nabi Musa hanya satu orang. Ucapan Fir’aun kepada Nabi Musa As dalam ayat 18 Surat Asy Syu’ara menunjukkan bahwa ia adalah figur yang sama, yang dahulu pernah mengasuh Nabi Musa As. (AL)

Bersambung…
Sebelumnya:
Catatan kaki:
[1] Lihat, Pearce Paul Creasman, Tree-Ring And The Chronology of Ancient Egypt, Radiocarbon, Vol 56, Nr 4, 2014, p S85–S92DOI: http://dx.doi.org/10.2458/azu_rc.56.18324 © 2014 by the Arizona Board of Regents

[2] Penanggalan radiokarbon adalah sebuah metode penanggalan radiometrik yang menggunakan isotope karbon-14 (14C) untuk menentukan usia material bahan organik (karbonaseous) dengan batasan sampai sekitar 60.000 tahun “sebelum sekarang” (atau diistilahkan “Before Present”, disingkat BP, di mana “sekarang” didefinisikan sebagai tahun 1950. Teknik ini ditemukan oleh Willard Libby dan koleganya yang diperkenalkan kepada publik pada tahun 1949 selama jabatannya sebagai profesor di Universitas Chicago. Berkat penemuannya ini, ia mendapatkan Hadiah Nobel untuk Kimia pada tahun 1960. Lihat, https://id.wikipedia.org/wiki/Penanggalan_radiokarbon, diakses 27 April 2018

[3] Pearce Paul Creasman, pada tahun 2014, melalui jurnal internasionalnya, mengajukan solusi untuk meningkatkan validitas kronologi yang sudah dicapai oleh ilmuwan sejauh ini dengan menggunakan analisis cincin kayu yang dipakai mumi dan menjadi bagian dari artefak di makam-makam Raja Mesir Kuno. Namun kita belum mendapatkan informasi tentang apakah solusi ini digunakan atau tidak. Lihat, Pearce Paul Creasman, Op Cit