Nama
Fir’uan, muncul sebanyak 74 kali dalam Alquran. Jumlah ini bahkan lebih
banyak daripada Nabi Ibrahim As, yang disebut sebanyak 64
kali. Persoalannya, Fir’aun yang dihadapi Nabi Musa As, tidak disebutkan
namanya secara gamblang baik dalam kisah Alquran maunpun Injil. Para ilmuwan
dan ulama berdebat panjang mengenai persoalan ini.”
Mungkin
sebagian besar kaum Muslimin, dan penganut agama samawi umumnya, pernah
mendengar kisah Nabi Musa As melawan kezhaliman Fir’aun. Hal ini sangat wajar,
mengingat kisah ini disebutkan berulang-ulang di banyak surat dalam Alquran dan
kitab suci lainnya. Di Alquran, tak kurang dari 26 surat yang menyebutkan nama
kedua tokoh ini, bahkan sebagian besar surat Al-Qashash berisi kisah tentang
Nabi Musa As dengan Fir’aun.[1]
Tidak hanya dalam Alquran, kisah Nabi Musa As dan Firaun, bahkan banyak ditemui
juga dalam kitab-kitab agama samawi lainnya, seperti Injil.
Tentang
identitas Nabi Musa As, mungkin semua riwayat tidak ada perbedaan. Alquran dan
kitab suci agama samawi lainnya sangat rinci menjelaskan perjalanan hidupnya.
Tapi tentang sosok Fir’aun yang dihadapi Nabi Musa As, masih belum ada
kesepakatan yang cukup bulat di antara para ulama, ilmuwan dan sejarawan
tentang identitasnya. Padahal sosok ini demikian penting dalam sejarah agama
umat manusia.
Di
antara banyak tokoh yang disebut dalam Alquran, nama Nabi Musa As paling banyak
disebut, yaitu sebanyak 136 kali. Adapun Fir’aun, disebutkan sebanyak 74 kali.
Jumlah ini lebih banyak dari Nabi Nuh As yang disebut sebanyak 43 kali, atau
Sayidah Maryam yang disebut sebanyak 34 kali; bahkan Fir’aun lebih banyak
disebut daripada Nabi Ibrahim As, sebanyak 64 kali dalam Alquran.[2]
Persoalannya,
Fir’aun yang dihadapi Nabi Musa As, tidak disebutkan namanya secara gamblang
baik dalam kisah Alquran maunpun injil. Sejauh ini, sosoknya menjadi symbol
atau contoh kesombongan pengusa yang lalim. Dari Fir’aun lah kita bisa mengenal
bagaimana modus operansi penguasa di segala zaman melanggengkan kekuasaannya.
Dalam Surat Al Qashash ayat: 4, Allah SWT berfirman:
“Sungguh, Fir’aun telah
berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya terpecah belah,
dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki dan
membiarkan hidup anak perempuan mereka. sesunggunya Fir’aun termasuk orang yang
berbuat kerusakan.”
Sebagaimana kita saksikan dalam sejarah, semua pemimpin
yang lalim selalu membuat rakyatnya terpecah belah, menindas sebagian di antara
mereka dan meninggikan sebagian yang lain.
Persoalan
lainnya, apakah semua Firaun yang pernah memerintah Mesir memiliki perilaku yang
sama? Atau hanya sebagian di antaranya saja? Lalu, apakah Fir’aun yang dihadapi
oleh Nabi Musa As adalah satu orang, ataukah beberapa? Pertanyaan ini wajar
muncul, mengingat panjangnya durasi cerita tentang Nabi Musa dengan Fir’aun,
mulai dari kelahirannya, pelariannya, hingga kedatangannya kembai ke Mesir.
Terkait
pertanyaan pertama, sebuah artikel di http://www.islamic-awareness.org
menyebutkan bahwa ada perbedaan antara Fir’aun yang dimaksud oleh Alquran
dengan yang ada di Injil. Di Injil, semua raja-raja mesir yang memimpin pada
periode Ibrahim, Yusuf dan Musa, semuanya disebut Fir’aun (Pharaoh). Sedangkan
di Alquran, kata Fir’aun hanya disebutkan sebagai identitas raja yang
memerintah pada masa Nabi Musa As. Adapun raja-raja yang memerintah pada
periode Ibrahim dan Yusuf, Alquran menyebutnya dengan nama Malik (Raja).
Jadi bisa dikatakan bahwa menurut Alquran, raja yang dimaksud sebagai contoh
kekuasaan yang lalim tersebut adalah Fir’aun yang dihadapi oleh Nabi Musa As.[3]
Masih
menurut Artikel yang sama, disebutkan bahwa menurut para peneliti modern,
orang-orang Mesir menggunakan kata Pharaoh untuk menunjukkan rajanya baru dimulai
pada Dinasti ke-18 dari 31 dinasti yang pernah memerintah Mesir.[4]
Menurut kesepakatan para ilmuwan, Dinasti ke-18 yang memerintah Mesir,
berlangsung dari tahun 1539 hingga 1077 SM. Kata ini kemudian dipakai
seterusnya hingga periode Dinasti ke 25 dan 26 yang memerintah dari 1076 – 746
SM, yang diidentifikasi sebagai periode penurunan kejayaan Mesir Kuno. Setelah
periode ini, Mesir kemudian diperintah oleh Persia dan kemudian Romawi.[5]
Terkait
dengan hal tersebut, agaknya tidak mungkin era kepemimpinan Fir’aun yang
bertemu Nabi Musa As berlangsung pada periode penurunan tersebut. Sebagaimana
umumnya sebuah Dinasti, ada masa pertumbuhan, puncak kejayaan dan penurunan.
Bila menyimak karakter kekuasaan Fir’aun yang disebut oleh Alquran, agaknya
Fir’aun yang dimaksud muncul pada masa kejayaan Mesir, atau bahkan pada puncak
kejayaan Mesir Kuno. Sehingga ia demikian sombongnya, bahwa mendaku dirinya
sebagai Tuhan.
Periodesasi
kepemimpinan Mesir Kuno Dinasti ke-18 hingga ke-20
Tidak ada komentar:
Posting Komentar