Sabtu, 08 Februari 2020

Fir’aun di Zaman Nabi Musa As (1)


Nama Fir’uan, muncul sebanyak 74 kali dalam Alquran. Jumlah ini bahkan lebih banyak daripada Nabi Ibrahim As, yang disebut sebanyak 64 kali. Persoalannya, Fir’aun yang dihadapi Nabi Musa As, tidak disebutkan namanya secara gamblang baik dalam kisah Alquran maunpun Injil. Para ilmuwan dan ulama berdebat panjang mengenai persoalan ini.

Mungkin sebagian besar kaum Muslimin, dan penganut agama samawi umumnya, pernah mendengar kisah Nabi Musa As melawan kezhaliman Fir’aun. Hal ini sangat wajar, mengingat kisah ini disebutkan berulang-ulang di banyak surat dalam Alquran dan kitab suci lainnya. Di Alquran, tak kurang dari 26 surat yang menyebutkan nama kedua tokoh ini, bahkan sebagian besar surat Al-Qashash berisi kisah tentang Nabi Musa As dengan Fir’aun.[1] Tidak hanya dalam Alquran, kisah Nabi Musa As dan Firaun, bahkan banyak ditemui juga dalam kitab-kitab agama samawi lainnya, seperti Injil.

Tentang identitas Nabi Musa As, mungkin semua riwayat tidak ada perbedaan. Alquran dan kitab suci agama samawi lainnya sangat rinci menjelaskan perjalanan hidupnya. Tapi tentang sosok Fir’aun yang dihadapi Nabi Musa As, masih belum ada kesepakatan yang cukup bulat di antara para ulama, ilmuwan dan sejarawan tentang identitasnya. Padahal sosok ini demikian penting dalam sejarah agama umat manusia.

Di antara banyak tokoh yang disebut dalam Alquran, nama Nabi Musa As paling banyak disebut, yaitu sebanyak 136 kali. Adapun Fir’aun, disebutkan sebanyak 74 kali. Jumlah ini lebih banyak dari Nabi Nuh As yang disebut sebanyak 43 kali, atau Sayidah Maryam yang disebut sebanyak 34 kali; bahkan Fir’aun lebih banyak disebut daripada Nabi Ibrahim As, sebanyak 64 kali dalam Alquran.[2]
Persoalannya, Fir’aun yang dihadapi Nabi Musa As, tidak disebutkan namanya secara gamblang baik dalam kisah Alquran maunpun injil. Sejauh ini, sosoknya menjadi symbol atau contoh kesombongan pengusa yang lalim. Dari Fir’aun lah kita bisa mengenal bagaimana modus operansi penguasa di segala zaman melanggengkan kekuasaannya. Dalam Surat Al Qashash ayat: 4, Allah SWT berfirman: 

Sungguh, Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya terpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. sesunggunya Fir’aun termasuk orang yang berbuat kerusakan.” 

Sebagaimana kita saksikan dalam sejarah, semua pemimpin yang lalim selalu membuat rakyatnya terpecah belah, menindas sebagian di antara mereka dan meninggikan sebagian yang lain.
Persoalan lainnya, apakah semua Firaun yang pernah memerintah Mesir memiliki perilaku yang sama? Atau hanya sebagian di antaranya saja? Lalu, apakah Fir’aun yang dihadapi oleh Nabi Musa As adalah satu orang, ataukah beberapa? Pertanyaan ini wajar muncul, mengingat panjangnya durasi cerita tentang Nabi Musa dengan Fir’aun, mulai dari kelahirannya, pelariannya, hingga kedatangannya kembai ke Mesir.

Terkait pertanyaan pertama, sebuah artikel di http://www.islamic-awareness.org menyebutkan bahwa ada perbedaan antara Fir’aun yang dimaksud oleh Alquran dengan yang ada di Injil. Di Injil, semua raja-raja mesir yang memimpin pada periode Ibrahim, Yusuf dan Musa, semuanya disebut Fir’aun (Pharaoh). Sedangkan di Alquran, kata Fir’aun hanya disebutkan sebagai identitas raja yang memerintah pada masa Nabi Musa As. Adapun raja-raja yang memerintah pada periode Ibrahim dan Yusuf, Alquran menyebutnya dengan nama Malik (Raja). Jadi bisa dikatakan bahwa menurut Alquran, raja yang dimaksud sebagai contoh kekuasaan yang lalim tersebut adalah Fir’aun yang dihadapi oleh Nabi Musa As.[3]

Masih menurut Artikel yang sama, disebutkan bahwa menurut para peneliti modern, orang-orang Mesir menggunakan kata Pharaoh untuk menunjukkan rajanya baru dimulai pada Dinasti ke-18 dari 31 dinasti yang pernah memerintah Mesir.[4] Menurut kesepakatan para ilmuwan, Dinasti ke-18 yang memerintah Mesir, berlangsung dari tahun 1539 hingga 1077 SM. Kata ini kemudian dipakai seterusnya hingga periode Dinasti ke 25 dan 26 yang memerintah dari 1076 – 746 SM, yang diidentifikasi sebagai periode penurunan kejayaan Mesir Kuno. Setelah periode ini, Mesir kemudian diperintah oleh Persia dan kemudian Romawi.[5]

Terkait dengan hal tersebut, agaknya tidak mungkin era kepemimpinan Fir’aun yang bertemu Nabi Musa As berlangsung pada periode penurunan tersebut. Sebagaimana umumnya sebuah Dinasti, ada masa pertumbuhan, puncak kejayaan dan penurunan. Bila menyimak karakter kekuasaan Fir’aun yang disebut oleh Alquran, agaknya Fir’aun yang dimaksud muncul pada masa kejayaan Mesir, atau bahkan pada puncak kejayaan Mesir Kuno. Sehingga ia demikian sombongnya, bahwa mendaku dirinya sebagai Tuhan.
Periodesasi kepemimpinan Mesir Kuno Dinasti ke-18 hingga ke-20

Tidak ada komentar:

Posting Komentar