Raja Firaun yang memerintah Mesir
sekitar kelahirannya Nabi Musa, adalah seorang raja yang zalim, kejam dan tidak
berperikemanusiaan. Ia memerintah negaranya dengan kekerasan, penindasan dan
melakukan sesuatu dengan sewenang-wenangnya.
Rakyatnya hidup dalam ketakutan dan
rasa tidak aman tentang jiwa dan harta benda mereka, terutama Bani Israil yang
menjadi hamba kekejaman, kezaliman dan bertindak sewenang-wenangnya dari raja
dan orang-orangnya.
Mereka merasa tidak tenteram dan
selalu dalam keadaan gelisah, walau pun berada dalam rumah mereka sendiri.
Mereka tidak berani mengangkat kepala bila berhadapan dengan seorang hamba raja
dan berdebar hati mereka karena ketakutan bila kedengaran suara pegawai-pegawai
kerajaan lalu di sekitar rumah mereka, apalagi bunyi kasut mereka sudah
terdengar di depan pintu.
Raja Firaun yang sedang mabuk kuasa
yang tidak terbatas itu, bergelimpangan dalam kenikmatan dan kesenangan duniawi
yang tiada tara nya, bahkan mengumumkan dirinya sebagai tuhan yang harus
disembah oleh rakyatnya. Pada suatu hari beliau telah terkejut oleh ramalan
oleh seorang ahli nujum kerajaan yang dengan tiba-tiba datang menghadap raja
dan memberitahu bahwa menurut firasat falaknya, seorang bayi lelaki akan
dilahirkan dari kalangan Bani Israil yang kelak akan menjadi musuh kerajaan dan
bahkan akan membinasakannya.
Raja Firaun segera mengeluarkan
perintah agar semua bayi lelaki yang dilahirkan di dalam lingkungan kerajaan
Mesir dibunuh dan agar diadakan pengusutan yang teliti sehingga tiada seorang
pun dari bayi lelaki, tanpa terkecuali, terhindar dari tindakan itu. Maka
dilaksanakanlah perintah raja oleh para pengawal dan tenteranya. Setiap rumah
dimasuki dan diselidiki dan setiap perempuan hamil menjadi perhatian mereka
pada saat melahirkan bayinya.
Raja Firaun menjadi tenang kembali
dan merasa aman tentang kekebalan kerajaannya setelah mendengar para anggota
kerajaannya, bahwa wilayah kerajaannya telah menjadi bersih dan tidak seorang
pun dari bayi laki-laki yang masih hidup. Ia tidak mengetahui bahwa kehendak
Allah tidak dpt dibendung dan bahwa takdirnya bila sudah difirman
"Kun" pasti akan wujud dan menjadi kenyataan "Fayakun".
Tidak sesuatu kekuasaan bagaimana pun besarnya dan kekuatan bagaimana hebatnya
dapat menghalangi atau mengagalkannya.
Raja Firaun sesekali tidak terlintas
dalam fikirannya yang kejam dan zalim itu bahwa kerajaannya yang megah, menurut
apa yang telah tersirat dalam Lauhul Mahfudz, akan ditumbangkan oleh seorang
bayi yang justru diasuh dan dibesarkan di dalam istananya sendiri akan diwarisi
kelak oleh umat Bani Israil yang dimusuhi, dihina, ditindas dan disekat
kebebasannya. Bayi asuhnya itu ialah laksana bunga mawar yang tumbuh di antara
duri-duri yang tajam atau laksana fajar yang timbul menyingsing dari tengah
kegelapan yang mencekam.
Yukabad, isteri Imron bin Qahat bin
Lawi bin Yaqub sedang duduk seorang diri di salah satu sudut rumahnya menanti
datangnya seorang bidan yang akan memberi pertolongan kepadanya melahirkan bayi
dari dalam kandungannya itu.
Bidan datang dan lahirlah bayi yang
telah dikandungnya selama sembilan bulan dalam keadaan selamat, segar dan sehat
afiat. Dengan lahirnya bayi itu, maka hilanglah rasa sakit yang luar biasa
dirasai oleh setiap perempuan yang melahirkan namun setelah diketahui oleh
Yukabad bahwa bayinya adalah lelaki maka ia merasa takut kembali. Ia merasa
sedih dan khawatir bahwa bayinya yang sangat disayangi itu akan dibunuh oleh
orang-orang Firaun. Ia mengharapkan agar bidan itu merahasiakan kelahiran bayi
itu dari siapapun. Bidan yang merasa simpati terhadap bayi yang lucu dan bagus
itu serta merasa betapa sedih hati seorang ibu yang akan kehilangan bayi yang baru
dilahirkan memberi kesanggupan dan berjanji akan merahasiakan kelahiran bayi
itu.
Setelah bayi mencapai tiga bulan,
Yukabad tidak merasa tenang dan selalu berada dalam keadaan cemas dan khawatir
terhadap keselamatan bayinya. Allah memberi ilham kepadanya agar menyembunyikan
bayinya di dalam sebuah peti yang tertutup rapat, kemudian membiarkan peti yang
berisi bayinya itu terapung di atas sungai Nil. Yukabad tidak boleh bersedih
dan cemas atas keselamatan bayinya karena Allah menjamin akan mengembalikan bayi
itu kepadanya bahkan akan mengutuskannya sebagai salah seorang rasul.
Dengan bertawakkal kepada Allah dan
kepercayaan penuh terhadap jaminan Illahi, maka dilepaskannya peti bayi oleh
Yukabad, setelah ditutup rapat dan dicat dengan warna hitam, terapung dipermukaan
air sungai Nil. Kakak Musa diperintahkan oleh ibunya untuk mengawasi dan
mengikuti peti rahsia itu agar diketahui di mana ia berlabuh dan ditangan siapa
akan jatuh peti yang mengandungi arti yang sangat besar bagi perjalanan sejarah
umat manusia.
Alangkah cemasnya hati kakak Musa,
ketika melihat dari jauh bahwa peti yang diawasi itu, dijumpai oleh puteri raja
yang kebetulan berada di tepi sungai Nil bersantai bersama beberapa dayangnya
dan dibawanya masuk ke dalam istana dan diserahkan kepada ibunya, isteri
Firaun. Yukabad yang segera diberitahu oleh anak perempuannya tentang nasib
peti itu, menjadi kosong hatinya karena sedih dan cepat serta hampir saja
membuka rahasia peti itu, andai kata Allah tidak meneguhkan hatinya dan
menguatkan hanya kepada jaminan Allah yang telah diberikan kepadanya.
Raja Firaun ketika diberitahu oleh
Aisah, isterinya, tentang bayi laki-laki yang ditemui di dalam peti yang
terapung di atas permukaan sungai Nil, segera memerintahkan membunuh bayi itu
seraya berkata kepada isterinya: "Aku khawatir bahwa inilah bayi yang
diramalkan, yang akan menjadi musuh dan penyebab kesedihan kami dan akan
membinasakan kerajaan kami yang besar ini." Akan tetapi isteri Firaun yang
sudah terlanjur menaruh simpati dan sayang terhadap bayi yang lucu dan manis
itu, berkata kepada suaminya: "Janganlah bayi yang tidak berdosa ini
dibunuh. Aku sayang kepadanya dan lebih baik kami ambil dia sebagai anak,
kalau-kalau kelak ia akan berguna dan bermanfaat bagi kami. Hatiku sangat
tertarik kepadanya dan ia akan menjadi kesayanganku dan kesayangmu".
Demikianlah jika Allah Yang Maha
Kuasa menghendaki sesuatu maka dilincinkanlah jalan bagi terlaksananya takdir
itu. Dan selamatlah nyawa putera Yukabad yang telah ditakdirkan oleh Allah
untuk menjadi rasul-Nya, menyampaikan amanat wahyu-Nya kepada hamba-hamba-Nya
yang sudah sesat.
Nama Musa yang telah diberikan
kepada bayi itu oleh keluarga Firaun, berarti air dan pohon {Mu=air , Sa=pohon}
sesuai dengan tempat ditemukannya peti bayi itu. Didatangkanlah kemudian ke
istana beberapa inang untuk menjadi ibu susuan Musa. Akan tetapi setiap inang
yang mencoba dan memberi air susunya ditolak oleh bayi yang enggan menyedut
dari setiap tetek yang diletakkan ke bibirnya. Dalam keadaan isteri Firaun
sedang bingung memikirkan bayi pungutnya yang enggan menetek dari sekian banyak
inang yang didatangkan ke istana, datanglah kakak Musa menawarkan seorang inang
lain yang mungkin diterima oleh bayi itu.
Atas pertanyaan keluarga Firaun,
kalau-kalau ia mengenal keluarga bayi itu, berkatalah kakak Musa: "Aku
tidak mengenal siapakah keluarga dan ibu bayi ini. Hanya aku ingin menunjukkan
satu keluarga yang baik dan selalu rajin mengasuh anak, kalau-kalau bayi itu
dpt menerima air susu ibu keluarga itu".
Anjuran kakak Musa diterima oleh
isteri Firaun dan seketika itu jugalah dijemput ibu kandung Musa sebagai inang
bayaran. Maka begitu bibir sang bayi menyentuh tetek ibunya, disedutlah air
susu ibu kandungnya itu dengan sangat lahapnya. Kemudian diserahkan Musa kepada
Yukabad ibunya, untuk diasuh selama masa menetek dengan imbalan upah yang
besar. Maka dengan demikian terlaksanalah janji Allah kepada Yukabad bahwa ia
akan menerima kembali puteranya itu.
Setelah selesai masa meneteknya,
dikembalikan Musa oleh ibunya ke istana, di mana ia di asuh, dibesar dan
dididik sebagaimana anak-anak raja yang lain. Ia mengendarai kendaraan Firaun
dan berpakaian sesuai dengan cara-cara Firaun berpakaian sehingga ia dikenal
orang sebagai Musa bin Firaun.
Musa keluar dari Mesir
Sejak ia dikembali ke istana oleh
ibunya setelah disusui, Musa hidup sebagai slah seorang drp keluarga kerajaan
hingga mencapai usia dewasanya, dimana ia memperolehi asuhan dan pendidikan
sesuai dengan tradisi istana. Allah mengurniakannya hikmah dan pengetahuan
sebagai persiapan tugas kenabian dan risalah yang diwahyukan kepadanya. Di
samping kesempurnaan dan kekuatan rohani, ia dikurniai oleh Allah kesempurnaan
tubuh dan kekuatan jasmani.
Musa mengetahui dan sedar bahwa ia
hanya seorang anak pungut di istana dan tidak setitik darah Firaun pun mengalir
di dalam tubuhnya dan bahwa ia adalah keturunan Bani Israil tg ditindas dan
diperlakukan sewenang-wenangnya oleh kaum Firaun. Karenanya ia berjanji kepada
dirinya akan menjadi pembela kepada kamunya yang tertindas dan menjadi pelindung
bagi golongan yang lemah yang menjadi sasaran kezaliman dan keganasan para
penguasa. Demikianlah maka terdorong oleh rasa setia kawannya kepada
orang-orang yang madhlum dan teraniaya, terjadilah suatu peristiwa yang
menyebabkan ia terpaksa meninggalkan istana dan keluar dari Mesir.
Peristiwa itu terjadi ketika Musa
sedang berjalan-jalan di sebuah lorong di waktu tengahari di mana keadaan kota
sunyi sepi ketika penduduknya sedang tidur siang, Ia melihat kedua berkelahi
seorang dari golongan Bani Israil bernama Samiri dan seorang lagi dari kaum
Firaun bernama Fatun. Musa yang mendengar teriakan Samiri mengharapkan akan
pertolongannya terhadap musuhnya yang lebih kuat dan lenih besar itu, segera
melontarkan pukulan dan tumbukannya kepada Fatun yang seketika itu jatuh rebah
an menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Musa terkejut melihat Fatun, orang
Firaun itu mati karena tumbukannya yang tidak disengajakan dn tidak akan
mengharapkan membunuhnya. Ia merasa berdoa dan beristighfar kepada Allah
memohon ampun diatas perbuatannya yang tidak sengaja, telah melayang nyawa
salah seorang drp hamba-hamba-Nya.
Peristiwa matinya Fatun menjadi
perbualan ramai dan menarik para penguasa kerajaan yang menduga bahwa pasti
orang-orang Israillah yang melakukan perbunuhan itu. Mereka menuntut agar
pelakunya diberi hukuman yang berat , bila ia tertangkap.
Anggota dan pasukan keamanan negara
di hantarkan ke seluruh pelusuk kota mencari jejak orang yang telah membunuh
Fatun, yang sebenarnya hanya diketahui oleh Samiri dan Musa shj. akan tetapi,
walaupun tidak orang ketiga yang menyaksikan peristiwa itu, Musa merasa cemas
dan takut dan berada dalam keadaan bersedia menghadapi akibat perbuatannya itu
bila sampai tercium oleh pihak penguasa.
Alangkah malangnya nasib Musa yang
sudah cukup berhati-hati menghindari kemungkinan terbongkarnya rahsia
pembunuhan yang ia lakukan tatkala ia terjebat lagi tanpa disengajakan dalam
suatu perbuatan yang menyebabkan namanya disebut-sebut sebagai pembunuh yang
dicari. Musa bertemu lagi dengan Samiri yang telah ditolongnya melawan Fatun,
juga dalam keadaan berkelahi untuk kali keduanya dengan salah seorang dari kaum
Firaun. Melihat Musa berteriaklah Samiri meminta pertolongannya. Musa
menghampiri mereka yang sedang berkelahi seraya berkata menegur Samiri: "
Sesungguhnya engkau adalah seorang yang telah sesat."
Samiri menyangkal bahwa Musa akan
membunuhnya ketika ia mendekatinya, lalu berteriaklah Samiri berkata:
"Apakah engkau hendak membunuhku sebagaimana engkau telah membunuh seorang
kelmarin? Rupanya engkau hendak menjadi seorang yang sewenang-wenang di negeri
ini dan bukan orang yang mengadilkan kedamaian".
Kata-kata Samiri itu segera
tertangkap orang-orang Firaun, yang dengan cepat memberitahukannya kepada para
penguasa yang memang sedang mencari jejaknya. Maka berundinglah para pembesar
dan penguasa Mesir, yang akhirnya memutuskan untuk menangkap Musa dan
membunuhnya sebagai balasan terhadap matinya seorang dari kalangan kaum Firaun.
Selagi orang-orang Firaun mengatur
rancangan penangkapan Musa, seorang lelaki slah satu daripada sahabatnya datang
dari hujung kota memberitahukan kepadanya dan menasihatkan agar segera
meninggalkan Mesir, karena para penguasa Mesir telah memutuskan untuk
membunuhnya apabila ia ditangkap. lalu keluarlah Musa terburu-buru meninggalkan
Mesir, ssebelum anggota polis sempat menutup serta menyekat pintu-pintu
gerbangnya.
Musa bertemu Jodoh di kota Madyan
Dengan berdoa kepada Allah: "Ya
Tuhanku selamatkanlah aku dari segala tipu daya orang-orang yang zalim"
keluarlah Nabi Musa dari kota Mesir seorang diri, tiada pembantu selain
inayahnya Allah tiada kawan selain cahaya Allah dan tiada bekal kecuali bekal
iman dan takwa kepada Allah. Penghibur satu-satunya bagi hatinya yang sedih
karena meninggalkan tanahi airnya ialah bahwa ia telah diselamatkan oleh Allah
dari buruan kaum firaun yang ganas dan kejam itu.
Setelah menjalani perjalanan selama
lapan hari lapan malam dengan berkaki ayam {tidak berkasut} sampai terkupas
kedua kulit tapak kakinya, tibalah Musa di kota Madyan yaitu kota Nabi Syuaib
yang terletak di timur jazirah Sinai dan teluk Aqabah di selatan Palestin.
Nabi Musa beristirehat di bawah
sebuah pokok yang rendang bagi menghilangkan rasa letihnya karena perjalanan
yang jauh, berdiam seorang diri karena nasibnya sebagai salah seorang bekas
anggota istana kerajaan yang menjadi seorang pelarian dan buruan. Ia tidak tahu
ke mana ia harus pergi dan kepada siapa ia harus bertamu, di tempat di mana ia
tidak mengenal dan dikenal orang, tiada sahabat dan saudara. Dalam keadaan demikian
terlihatlah olehnya sekumpulan penggembala berdesak-desak mengelilingi sebuah
sumber air bagi memberi minum ternakannya masing-masing, sedang tidak jauh dari
tempat sumber air itu berdiri dua orang gadis yang menantikan giliran untuk
memberi minuman kepada ternakannya, jika para penggembala lelaki itu sudah
selesai dengan tugasnya.
Musa merasa kasihan melihat kepada
dua orang gadis itu yang sedang menanti lalu dihampirinya dan ditanya :
"Gerangan apakah yang kamu tunggu di sini?" Kedua gadis itu menjawab:
"Kami hendak mengambil air dan memberi minum ternakan kami namun kami
tidak dapat berdesak dengan lelaki yang masih berada di situ. Kami menunggu
sehingga mereka selesai memberi minum ternakan mereka. Kami harus lakukan
sendiri pekerjaan ini karena ayah kami sudah lanjut usianya dan tidak dapat
berdiri, jangan lagi datang ke mari". Lalu tanpa mengucapkan sepatah kata
dua pun diambilkannyalah timba kedua gadis itu oleh Musa dan sejurus kemudian
dikembalikannya kepada mrk setelah terisi air penuh sedang sekeliling sumber
air itu masih padat di keliling para pengembala.
Setibanya kedua gadis itu di rumah
berceritalah keduanya kepada ayah mrk tentang pengalamannya dengan Nabi Musa
yang karena pertolongannya yangbtidak diminta itu mrk dapat lebih cepat kembali
ke rumah drp biasa. Ayah kedua gadis yang bernama Syuaib itu tertarik dengan
cerita kedua puterinya. Ia ingin berkenalan dengan orang yang baik hati itu
yang telah memberi pertolongan tanpa diminta kepada kedua puterinya dan
sekaligus menytakan terimakasih kepadanya. Ia menyuruh salah seorang dari
puterinya itu pergi memanggilkan Musa dan mengundangnya datang ke rumah.
Dengan malu-malu pergilah puteri
Syuaib menemui Musa yang masih berada di bawah pohon yang masih melamun. Dalam
keadaan letih dan lapar Musa berdoa: "Ya Tuhanku aku sangat memerlukan
belas kasihmu dan memerlukan kebaikan sedikit brg makanan yang Engkau turunkan
kepadaku."
Berkatalah gadis itu kepada Musa
memotong lamunannya: "Ayahku mengharapkan kedatanganmu ke rumah untuk
berkenalan dengan engkau serta memberi engkau sekadar upah atas jasamu menolong
kami mendapatkan air bagi kami dan ternakan kami."
Musa sebagai perantau yang masih
asing di negeri itu, tiada mengenal dan dikenali orang tanpa berfikir panjang
menerima undangan gadis itu dengan senang hati. Ia lalu mengikuti gadis itu
dari belakang menuju ke rumah ayahnya yang bersedia menerimanya dengan penuh
ramah-tamah, hormat dan mengucapkan terimakasihnya.
Dalam berbincang-bincang dab
bercakap-cakap dengan Syuaib ayah kedua gadis yang sudah lanjut usianya itu
Musa mengisahkan kepadanya peristiwa yang terjadi pd dirinya di Mesri sehingga
terpaksa ia melarikan diri dan keluar meninggalkan tanah airnya bagi
mengelakkan hukuman penyembelihan yang telah direncanakan oleh kaum Firaun
terhadap dirinya.
Berkata Syuaib setelah mendengar
kisah tamunya: "Engkau telah lepas dari pengejaran dari orang-orang yang
zalim dan ganas itu adalah berkat rahmat Tuhan dan pertolongan-Nya. Dan engkau
sudah berada di sebuah tempat yang aman di rumah kami ini, di man engkau akan
tinggallah dengan tenang dan tenteram selama engkau suka."
Dalam pergaulan sehari-hari selama
ia tinggal di rumah Syuaib sebagai tamu yang dihormati dan disegani Musa telah
dapat menawan hati keluarga tuan rumah yang merasa kagum akan keberaniannya,
kecerdasannya, kekuatan jasmaninya, perilakunya yang lemah lembut, budi
perkertinya yang halus serta akhlaknya yang luhur. Hal mana telah menimbulkan
idea di dalam hati salah seorang dari kedua puteri Syuaib untuk mempekerjakan
Musa sebagai pembantu mereka. Berkatalah gadis itu kepada ayahnya: "wahai
ayah! Ajaklah Musa sebagai pembantu kami menguruskan urusan rumahtangga dan
penternakan kami. Ia adalah seorang yang kuat badannya, luhur budi perkertinya,
baik hatinya dan boleh dipercayai."
Saranan gadis itu disepakati dan
diterima baik oleh ayahnya yang memang sudah menjadi pemikirannya sejak Musa
tinggal bersamanya di rumah, menunjukkan sikap bergaul yang manis perilaku yang
hormat dab sopan serta tangan yang ringan suka bekerja, suka menolong tanpa diminta.
Diajaklah Musa berunding oleh Syuaib
dan berkatalah kepadanya: "Wahai Musa! Tertarik oleh sikapmu yang manis
dan cara pergaulanmu yang sopan serta akhlak dan budi perkertimu yang luhur,
selama engkau berada di rumah ini kami dan mengingat akan usiaku yang makin
hari makin lanjut, maka aku ingin sekali mengambilmu sebagai menantu,
mengahwinkan engkau dengan salah seorang dari kedua gadisku ini. Jika engkau
dengan senang hati menerima tawaranku ini, maka sebagai maskahwinnya, aku minta
engkau bekerja sebagai pembantu kami selama lapan tahun menguruskan penternakan
kami dan soal-soal rumahtangga yang memerlukan tenagamu. Dan aku sangat
berterima kasih kepada mu bila engkau secara suka rela mahu menambah dua tahun
di atas lapan tahun yang menjadi syarat mutlak itu."
Nabi Musa sebagai buruan yang lari
dari tanah tumpah darahnya dan berada di negeri orang sebagai perantau, tada
sanak saudara, tiada sahabat telah menerima tawaran Syuaib iut sebagai kurniaan
dari Tuhan yang akan mengisi kekosongan hidupnya selaku seorang bujang yang
memerlukan teman hidup untuk menyekutunya menanggung beban penghidupan dengan
segala duka dan dukanya. Ia segera tanpa berfikir panjang berkata kepada
Syuaib: "Aku merasa sgt bahagia, bahwa pakcik berkenan menerimaku sebagai menantu,
semuga aku tidak menghampakan harapan pakcik yang telah berjasa kepada diriku
sebagai tamu yang diterima dengan penuh hormat dan ramah tamah, kemudian
dijadikannya sebagai menantu, suami kepada anak puterinya. Syarat kerja yang
pakcik kemukakan sebagai maskahwin, aku setujui dengan penuh tanggungjawab dab
dengan senang hati."
Setelah masa lapan tahun bekerja
sebagai pembantu Syuaib ditambah dengan suka rela dilampaui oleh Musa,
dikahwinkanlah ia dengan puterinya yang bernama Shafura. Dan sebagai hadiah perkahwinan
diberinyalah pasangan penganti baru itu oleh Syuaib beberapa ekor kambing untuk
dijadikan modal pertama bagi hidupnya yang baru sebagai suami-isteri. Pemberian
beberpa ekor kambing itu juga merupakan tanda terimaksih Syuaib kepada Musa
yang selama ini di bawah pengurusannya, penternakan Syuaib menjadi berkembang
biak dengan cepatnya dan memberi hasil serta keuntungan yang berlipat ganda.
Musa A.S. pulang ke Mesir dan
menerima Wahyu
Sepuluh tahun lebih Musa
meninggalkan Mesir tanah airnya, sejak ia melarikan diri dari buruan kaum
Firaun. Suatu waktu yang cukup lama bagi seseorang dpt bertahan menyimpan rasa
rindunya kepada tanah air, tempat tumpah darahnya , walaupun ia tidak pernah
merasakan kebahagiaan hidup di dalam tanah airnya sendiri. Apa lagi seorang
seperti Musa yang mempunyai kenang-kenangan hidup yang seronok dan indah selama
ia berada di tanah airnya sendiri selaku seorang dari keluarga kerajaan yang
megah dan mewah, maka wajarlah bila ia merindukan Mesir tanah tumpah darahnya
dan ingin pulang kembali setelah ia beristerikan Shafura, puteri Syuaib.
Bergegas-gegaslah Musa berserta
isterinya mengemaskan barang dan menyediakan kenderaan lalu meminta diri dari
orang tuanya dan bertolaklah menuju ke selatan menghindari jalan umum supaya
tidak diketahui oleh orang-orang Firaun yang masih mencarinya.
Setibanya di "Thur Sina"
tersesatlah Musa kehilangan pedoman dan bingung manakah yang harus ia tempuh.
Dalam keadaan demikian terlihatlah oleh dia sinar api yang nyala-nyala di atas
lereng sebuah bukit. Ia berhenti lalu lari ke jurusan api itu seraya berkata
kepada isterinya: "Tinggallah kamu disini menantiku. Aku pergi melihat api
yang menyala di atas bukit itu dan segera aku kembali. Mudah-mudahan aku dapat
membawa satu berita kepadamu dari tempat api itu atau setidak-tidaknya membawa
sesuluh api bagi menghangatkan badanmu yang sedang menggigil kesejukan."
Tatkala Musa sampai ke tempat api
itu terdengar oleh dia suara seruan kepadanya datang dari sebatang pohon kayu
di pinggir lembah yang sebelah kanannya pada tempat yang diberkahi Allah. Suara
seruan yang didengar oleh Musa itu ialah: "Wahai Musa! Aku ini adalah
Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu. Sesungguhnya kamu berada di
lembah yang suci Thuwa. Dan aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang
akan diwahyukan kepadamu. Sesungguhnya aku ini adalah Allah tiada Tuhan selain
Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah solat untuk mengingat akan Aku."
Itulah wahyu yang pertama yang
diterima langsung oleh Nabi Musa sebagai tanda kenabiannya, di mana ia telah
dinyatakan oleh Allah sebagai rasul dan nabi-Nya yang dipilih Nabi Musa dalam
kesempatan bercakap langsung dengan allah di atas bukit Thur Sina itu telah
diberi bekal oleh Allah yang Maha Kuasa dua jenis mukjizat sebagai persiapan
untuk menghadap kaum Firaun yang sombong dan zalim itu.
Bertanyalah Allah kepada Musa:
"Apakah itu yang engkau pegang dengan tangan kananmu hai Musa!" Suatu
pertanyaan yang mengadungi erti yang lebih dalam dari apa yang sepintas lalu
dapat ditangkap oleh Nabi Musa dengan jawapannya yang sederhana. "Ini
adalah tongkatku, aku bertelekan pdnya dan aku pukul daun dengannya untuk
makanan kambingku. Selain itu aku dapat pula menggunakan tongkatku untuk
keperluan-keperluan lain yang penting bagiku."
Maksud dan erti dari pertanyaan
Allah yang nampak sederhana itu baru dimegertikan dan diselami oleh Musa
setelah Allah memerintahkan kepadanya agar meletakkan tongkat itu di atas
tanah, lalu menjelmalah menjadi seekor ular besar yang merayap dengan cepat
sehingga menjadikan Musa lari ketakutan. Allah berseru kepadanya:
"Peganglah ular itu dan jangan takut. Kami akan mengembalikannya kepada
keadaan asal."
Maka begitu ular yang sedang merayap
itu ditangkap dan dipegang oleh Musa, ia segera kembali menjadi tongkat yang ia
terima dari Syuaib, mertuanya ketika ia bertolak dari Madyan.
Sebagai mukjizat yang kedua, Allah
memerintahkan kepada Musa agar mengepitkan tangannya ke ketiaknya yang nyata
setelah dilakukannya perintah itu, tangannya menjadi putih cemerlang tanpa
cacat atau penyakit.
Musa diperintahkan berdakwah kepada
Firaun
Raja Firaun yang telah berkuasa di
Mesir telah lama menjalankan pemerintahan yang zalim, kejam dan ganas.
Rakyatnya yang terdiri dari bangsa Egypt yang merupakan penduduk peribumi dan
bangsa Israil yang merupakan golongan pendatang, hidup dalam suasana
penindasan, tidak merasa aman bagi nyawa dan harta bendanya.
Tindakan sewenang-wenang dan pihak
penguasa pemerintahan terutamanya ditujukan kepada Bani Israil yang tidak
diberinya kesempatan hidup tenang dan tenteram. Mereka dikenakan kerja paksa
dan diharuskan membayar berbagai pungutan yang tidak dikenakan terhadap
penduduk bangsa Egypt, bangsa Firaun sendiri.
Selain kezaliman, kekejaman,
penindasan dan pemerasan yang ditimpakan oleh Firaun atas rakyatnya, terutama
kaum Bani Israil. ia menyatakan dirinya sebagai tuhan yang harus disembah dan
dipuja. Dan dengan demikian ia makin jauh membawa rakyatnya ke jalan yang sesat
tanpa pendoman tauhid dan iman, sehingga makin dalamlah mereka terjerumus ke
lembah kemaksiatan dan kerusakan moral dan akhlak.
Maka dalam kesempatan bercakap-cakap
langsung di bukit Thur Sina itu diperintahkanlah Musa oleh Allah untuk pergi ke
Firaun sebagai Rasul-Nya, mengajakkan beriman kepada Allah, menyedarkan dirinya
bahwa ia adalah makhluk Allah sebagaimana lain-lain rakyatnya, yang tidak
sepatutnya menuntut orang menyembahnya sebagi tuhan dan bahawa Tuhan yang wajib
disembah olehnya dan oleh semua manusia adalah Tuhan Yang Maha Esa yang telah
menciptakan alam semesta ini.
Nabi Musa dalam perjalanannya menuju
kota Mesir setelah meninggalkan Madyan, selalu dibayang oleh ketakutan
kalau-kalua peristiwa pembunuhan yang telah dilakukan sepuluh tahun yang lalu
itu, belum terlupakan dan masih belum hilang dari ingatan para pembesar
kerajaan Firaun. Ia tidak mengabaikan kemungkinan bahwa mrk akan melakukan
pembalasan terhadap perbuatan yang ia tidak sengaja itu dengan hukuman
pembunuhan atas dirinya bila ia sudah berada di tengah-tengah mereka. Ia hanya
terdorong rasa rindunya yang sangat kepada tanah tumpah darahnya dengan
memberanikan diri kembali ke Mesir tanpa memperdulikan akibat yang mungkin akan
dihadapi.
Jika pada waktu bertolak dari Madyan
dan selama perjalannya ke Thur Sina. Nabi Musa dibayangi dengan rasa takut akan
pembalasan Firaun, Maka dengan perintah Allah yang berfirman maksudnya :~
"Pergilah engkau ke Firaun,
sesungguhnya ia telah melampaui batas, segala bayangan itu dilempar jauh-jauh
dari fikirannya dan bertekad akan melaksanakan perintah Allah menghadapi Firaun
apa pun akan terjadi pada dirinya. Hanya untuk menenterankan hatinya berucaplah
Musa kepada Allah: "Aku telah membunuh seorang drp mereka , maka aku
khuatir mereka akan membalas membunuhku, berikanlah seorang pembantu dari
keluargaku sendiri, yaitu saudaraku Harun untuk menyertaiku dalam melakukan
tugasku meneguhkan hatiku dan menguatkan tekadku menghadapi orang-orang kafir
itu apalagi Harun saudaraku itu lebih petah {lancar} lidahnya dan lebih cekap
daripada diriku untuk berdebat dan bermujadalah."
Allah berkenan mengabulkan
permohonan Musa, maka digerakkanlah hati Harun yang ketika itu masih berada di
Mesir untuk pergi menemui Musa mendampinginya dan bersama-sama pergilah mereka
ke istana Firaun dengan diiringi firman Allah: "Janganlah kamu berdua
takut dan khuatir akan disiksa oleh Firaun. Aku menyertai kamu berdua dan Aku
mendengar serta melihat dan mengetaui apa yang akan terjadi antara kamu dan
Firaun. Berdakwahlah kamu kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut
sedarkanlah ia dengan kesesatannya dan ajaklah ia beriman dan bertauhid,
meninggalkan kezalimannya dan kecongkakannya kalau-kalau dengan sikap yang
lemah lembut daripada kamu berdua ia akan ingat pada kesesatan dirinya dan
takut akan akibat kesombongan dan kebonmgkakannya."
Mujadalah (dialog) antara Musa
dengan Firaun
Diperolehi kesempatan oleh Musa dan
Harun, menemui raja Firaun yang menyatakan dirinya sebagai tuhan itu, setelah
menempuh beberapa rintangan yang lazim dilampaui oleh orang yang ingin bertemu
dengan raja pd waktu itu. Pertemuan Musa dan Harun dengan Firaun dihadiri pula
oleh beberapa anggota pemerintahan dan para penasihatnya.
Bertanya Firaun kepada mereka
berdua:: "Siapakah kamu berdua ini?"
Musa menjawab: "Kami, Musa dan
Harun adalah pesuruh Allah kepadamu agar engkau membebaskan Bani Israil dari perhambaan
dan penindasanmu dan menyerahkan meeka kepada kami agar menyebah kepada Allah
dengan leluasa dan menghindari seksaanmu."
Firaun yang segera mengenal Musa
berkata kepadanya: "Bukankah engkau adalah Musa yang telah kami mengasuhmu
sejak masa bayimu dan tinggal bersama kami dalam istana sampai mencapai usia
remajamu, mendapat pendidikan dan pengajaran yang menjadikan engkau pandai? Dan
bukankah engkau yang melakukan pembunuhan terhadap diriseorang drp golongan
kami? Sudahkah engkau lupa itu semuanya dan tidak ingat akan kebaikan dan jasa
kami kepada kamu?"
Musa menjawab: "Bahwasanya
engkau telah memeliharakan aku sejak masa bayiku, itu bukanlah suatu jasa yang
dapat engkau banggakan. Karena jatuhnya aku ke dalam tangan mu adalah akibat
kekejaman dan kezalimanmu tatkala engkau memerintah agar orang-orangmu
menyembelih setiap bayi-bayi laki yang lahir, sehingga ibu terpaksa membiarkan
aku terapung di permukaan sungai Nil di dalamsebuah peti yang kemudian dipungut
oleh isterimu dan selamatlah aku dari penyembelihan yang engkau perintahkan.
Sedang mengenai pembunuhan yang telah aku lakukan itu adalah akibat godaan
syaitan yang menyesatkan, namun peristiwa itu akhirnya merupakan suatu rahmat
dan barakah yang terselubung bagiku. Sebab dalam perantauanku setelah aku
melarikan diri dari negerimu, Allah mengurniakan aku dengan hikmah dan ilmu
serta mengutuskan aku sebagai Rasul dan pesuruh-Nya. Maka dalam rangka tugasku
sebagai Rasul datanglah aku kepadamu atas perintah Allah untuk mengajak engkau
dan kaummu menyembah Allah dan meninggalkan kezaliman dan penindasanmu terhadap
Bani Israil."
Firaun bertanya: "Siapakah
Tuhan yang engkau sebut-sebut itu, hai Musa? Adakah tuhan di atas bumi ini
selain aku yang patut di sembah dan dipuja?"
Musa menjawab: "Ya, yaitu Tuhanmu
dan Tuhan nenek moyangmu serta Tuhan seru sekalian alam."
Tanya Firaun: "Siapakah Tuhan
seru sekali alam itu?"
Musa menjawab: "Ialah Tuhan
langit dan bumi dan segala apa yang ada antara langit dan bumi."
Berkata Firaun kepada para
penasihatnya dan pembesar-pembesar kerajaan yang berada disekitarnya.
Sesungguhnya Rasul yang diutuskan kepada kamu ini adalah seorang yang gila
kemudia ia balik bertanya kepada Musa dan Harun: "Siapakah Tuhan kamu
berdua?"
Musa menjawab: "Tuhan kami
ialah Tuhan yang telah memberikan kepada tiap-tiap makhluk sesuatu bentuk
kejadiannya, kemudian memberi petunjuk kepadanya."
Firaun bertanya: "Maka
bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu yang tidak mempercayai apa yang
engkau ajarkan ini dan malahan menyembah berhala dan patung-patung?"
Musa menjawab: "Pengetahuan
tentang itu ada di sisi Tuhanku. Jika Dia telah menurunkan azab dan seksanya di
atas mereka maka itu adalah karena kecongkakan dan kesombongan serta keengganan
mereka kembali ke jalan yang benar. Jika Dia menunda azab dan seksa mereka
hingga hari kiamat, maka itu adalah kehendak-Nya yang hikmahnya kami belum
mengetahuinya. Allah telah mewahyukan kepada kami bahwa azab dan seksanya
adalah jalan yang benar."
Firaun yang sudah tidak berdaya
menolak dalil-dalil Nabi Musa yang diucapkan secara tegas dan berani merasa
tersinggung kehormatannya sebagai raja yang telah mempertuhankan dirinya lalu
menujukan amarahnya dan berkata kepada Musa secara mengancam: "Hai Musa!
jika engkau mengakui tuhan selain aku, maka pasti engkau akan kumasukkan ke
dalam penjara."
Musa menjawab: "Apakah engkau
akan memenjarakan aku walaupun aku dapat memberikan kepadamu tanda-tanda yang
membuktikan kebenaran dakwahku?"
Firaun menentang dengan berkata:
"Datanglah tanda-tanda dan bukti-bukti yang nyata yang dapat membuktikan
kebenaran kata-katamu jika engkau benar-benar tiak berdusta."
Musa mempertunjukkan dua mukjizat
kepada Firaun
Menjawab tentangan Firaun yang
menuntut bukti atas kebenarannya Musa dengan serta-merta meletakkan tongkat
mukjizatnya di atas yang segera menjelma menjadi seekor ular besar yang melata
menghala ke Firaun. Karena ketakutan melompat lari dari singgahsananya
melarikan diri seraya berseru kepada Musa: " Hai Musa demi asuhanku
kepadamu selama delapan belas tahun panggillah kembali ularmu itu."
Kemudian dipeganglah ular itu oleh Musa dan kembali menjadi tongkat biasa.
Berkata Firaun kepada Musa setelah
hilang dari rasa heran dan takutnya: "Adakah bukti yang dapat engkau
tunjukkan kepadaku?"
"Ya, lihatlah." Musa
menjawab serta memasukkan tangannya ke dalam saku bajunya. Kemudian tatkala
tangannya dikeluarkan dari sakunya, bersinarlah tangan Musa itu menyilaukan
mata Firaun itu dan orang-orang yang sedang berada disekelilingnya.
Firaun sebagai raja yang menyatakan
dirinya sebagai tuhan tentu tidak akan mudah begitu saja menyerah kepada Musa
bekas anak pungutnya walaupun kepadanya telah diperlihatkan dun mukjizat. Ia
bahkan berkata kepada kaumnya yang ia khuatir akan terpengaruh oleh kedua
mukjizat Musa itu bahwa itu semuanya adalah perbuatan sihir dan bahwa Musa dan
Harun adalah ahli sihir yang mahir yang datang dengan maksud menguasai Mesir
dan para penduduknya akan kekuatan dengan sihirnya itu.
Firaun dianjurkan oleh penasihatnya
yang dikepalai oleh Haman agar mematahkan sihir Musa dan Harun itu dengan
mengumpulkan ahli-ahli sihir yang terkenal dari seluruh daerah kerajaan untuk
bertanding melawan Musa dan Harun. Anjuran mana disetujui oleh Firaun yang
merasa itu adalah fikiran yang tepat dan jalan yang terbaik untuk melumpuhkan kedua
mukjizat Allah yang oleh mereka dianggapnya sebagai sihir. Anjuran itu lalu
ditawarkan kepada Musa yang seketika tanpa ragu-ragu sedikit pun menerima
tentangan Firaun untuk beradu dan bertanding melawan ahli-ahli sihir. Musa
berkeyakinan penuh bahwa dengan perlindung Allah ia akan keluar sebagai
pemenang dalam pertarungan itu, pertandingan antara perbuatan sihir yang
diilham oleh syaitan melawan mukjizat yang dikurniakan oleh Allah.
Pada suatu hari raya kerajaan telah
bersetuju untuk mengadakan hari pertandingan sihir maka berduyun-duyunlah
penduduk kota menuju ke tempat yang telah ditentukan untuk menyaksikan
perlumbaan kepandaian menyihir yang buat pertama kalinya diadakan di kota
Mesir. Juga sudah berada di tempat ahli-ahli sihhir yang terpandai yang telah
dikumpulkan dari seluruh wilayah kerajaan masing-masing membawa tongkat , tali
dan lain-lain alat sihirnya. Mrk cukup bersemangat dan akan berusaha sepenuh
kepandaian mrk untuk memenangi pertandingan. Mrk telah memperolhi janji dari
Firaun akan diberi hadiah dan wang dalam jumlah yang besar bila berhasil
mengalahkan Musa dengan mematahkan daya sihirnya.
Setelah segala sesuatu selesai
disiapkan dan masing-masing pembesar negeri sudah mengambil tempatnya
mengelilingi raja Firaun yang telah duduk di atas kursi singgahsananya maka
dinyatakanlah pertandingan dimulai. Kemudian atas persetujuan Musa dipersilakan
para lawannya beraksi lebih dahulu mempertujukan kepandai sihirnya.
Segeralah ahli-ahli sihir Firaun
menujukan aksinya melemparkan tongkat dan tali-temali mrk ke tengah-tengah
lapangan . Musa merasa takut ketika terbayang kepadanya bahwa tongkat-tongkat
dan tali-tali itu seakan-akan ular-ular yang merayap cepat. Namun Allah tidak
mebiarkan hamba utusan-Nya berkecil hati menghadapi tipu-daya orang-orang kafir
itu. Allah berfirman kepada Musa disaat ia merasa cemas itu: "Janganlah
engkau merasa takut dan cemas hai Musa! engkau adalah yang lebih unggul dan
akan menang dalam pertandingan ini. Lemparkanlah yang ada ditanganmu
segera."
Para ahli-ahli sihir yang pandai
dalam bidangnya itu tercengang ketika melihat ular besar yang menjelma dari
tongkat Nabi Musa dan menelan ular-ular dan segala apa yang terbayangsebagai
hasil tipu sihir mrk. Mrk segera menyerah kalah bertunduk dan bersujud {kepada
Allah} dihadapan Musa seraya berkata: "Itu bukanlah perbuatan sihir yang
kami kenal yang diilhamkan oleh syaitan tetapi sesuatu yang digerakkan oleh
kekuatan ghaib yang mengatakan kebenaran kata-kata Musa dan Harun maka tidak
ada alasan bagi kami untuk tidak mempercayai risalah mereka dn beriman kepada
Tuhan mereka sesudah apa yang kami lihat dan saksikan dengan mata kepala kami
sendiri."
Firaun raja yang congkak dan sombong
yang menuntut persembahan dari rakyatnya sebagai tuhan segera membelalakkan
matanya tanda marah dan jengkel melihat ahli-ahli sihirnya begitu cepat
menyerah kalah kepada Musa bahkan menyatakan beriman kepada Tuhannya dan kepada
kenabiannya serta menjadi pengikut-pengikutnya.
Tindakan mereka itu dianggapnya
sebagai pelanggaran terhadap kekuasaannya, penentangan terhadap ketuhanannya
dan merupakan suatu tamparan bagi kewibawaan serta prestasinya. Ia berkata
kepada mrk: "Adakah kamu berani beriman kepada Musa dan menyerah kepada
keputusannya sebelum aku izinkan kepada kamu?" Bukankah ini suatu
persekongkolan drp kamu terhadapku? Musa dpt mengalah kamu sebab ia mungkin
guru dan pembesar yang telah mengajarkan seni sihir kepadamu dan kamu telah
mengatur bersama-samanya tindakan yang kamu sandiwarakan di depanku hari ini.
Aku tidak akan tinggal diam menghadapi tindakan khianatmu ini. Akanku potong
tangan-tangan dan kaki-kakimu serta akanku salibkan kamu semua pada pangkal
pohon kurma sebagai hukuman dan balasan bagi tindakan khianatmu ini."
Ancaman Firaun itu disambut mrk
dengan sikap dingin dan acuh tak acuh. Karena Allah telah membuka mata hati
mereka dengan cahaya iman sehingga tidak akan terpengaruh dengan kata-kata
kebathilan yang menyesatkan atau ancaman Firaun yang menakutkan. Mrk
sebagai-orang-orang yang ahli dalam ilmu dan seni sihir dpt membedakan yang
mana satu sihir dan yang mana bukan. Maka sekali mrk diyakinkan dengan mukjizat
Nabi Musa yang membuktikan kebenaran kenabiannya tidaklah keyakinan itu akan
dpt digoyahkan oleh ancaman apa pun. Berkata mereka kepada Firaun menanggapi
ancamannya: "Kami telah memdpat bukti-bukti yang nyata dan kami tidak akan
mengabaikan kenyataan itu sekadar memenuhi kehendak dan keinginanmu. Kami akan
berjalan terus megikut jejak dan tuntutan Musa dan Harun sebagai pesuruh oleh
yang benar. Maka terserah kepadamu untuk memutuskan apa yang engkau hendak
putuskan terhadap diri kami. Keputusan kamu hanya berlaku di dunia ini sedang
kami mengharapkan pahala Allah di akhirat yang kekal dan abadi."
Firaun tetap keras kepala dan
semakin bingung
Nabi Musa yang telah mengalahkan ahli-ahli
sihir dengan kedua mukjizatnya makin meluas pengaruhnya, sedan Firaun dengan
kekalahan ahli sihirnya merasa kewibawaannya merosot dan kehormatannya menurun.
ia khuatir jika gerakan Musa tidak segera dipatahkan akan mengancam keselamatan
kerajaannya serta kekekalan mahkotanya. Para penasihat dan pembantu-pembantu
terdekatnya tidak berusaha menghilangkan rasa kecemasan dan kekhuatirannya,
tetapi mereka sebaliknya makin membakar dadanya dan makin menakutu-nakutinya.
Mrk berkata kepadanya: "Apakah engkau akan terus membiarkan Musa dan
kaumnya bergerak secara bebas dan meracuni rakyat dengan amcam-macam
kepercayaan dan ajaran-ajaran yang menyimpang dari apa yang telah kita warisi
dari nenek-moyang kita? Tidakkah engkau sedar bahwa rakyat kita makin lama makin
terpengaruh oleh hasutan-hasutan Musa. sehingga lama-kelamaan nescaya kita dan
tuhan-tuhan kita akan ditinggalkan oleh rakyat kita dan pada akhirnya akan
hancur binasalah negara dan kerajaanmu yang megah ini."
Firaun menjawab: "Apa yang kamu
huraikan itu sudah menjadi perhatiku sejak dikalahkannya ahli-ahli sihir kita
oleh Musa. Dan memang kalau kita membiarkan Musa terus melebarkan sayapnya dan
meluaskan pengaruhnya di kalangan pengikut-pengikutnya yang makin lama makin
bertambah jumlahnya, pasti pada akhirnya akan merusakkan adab hidup masyarakat
negara kita serta membawa kehancuran dan kebinasaan bagi kerajaan kita yang
megah ini. karenanya aku telah merancang akan bertindak terhadap Bani Israil
dengan membunuh setiap orang lelaki dan hanya wanita sahaja akanku biarkan
hidup."
Rancangan jahat firaun diterapkan
oleh pegawai dan kaki tangan kerajaannya. Aneka ragam gangguan dan macam-macam
tindakan kejam ditimpakan atas Bani Israil yang memang menurut anggapan
masyarakat, mereka itu adalah rakyat kelas kambing dalam kerajaan Firaun yang
zalim itu. Dengan makin meningkatnya kezaliman dan penindasan yang mereka
terima dari alat-alat kerajaan Firaun, datanglah Bani Israil kepada Nabi Musa,
mengharapkan pertolongan dan perlindungannya.
Nabi Musa tidak dpt berbuat byk pada
masa itu bagi Bani Israil yang tertindas dan teraniaya. Ia hanya menenteramkan
hati mereka, bahwa akan tiba saatnya kelak,di mana mrk akan dibebaskan oleh
Allah dari segala penderitaan yang mrk alami. Dianjurkan oleh Nabi Musa agar
mereka bersabar dan bertawakkal seraya memohon kepada Allah agar Allah
memberikan pertolongan dan perlindungan-Nya karena Allah telah menjanjikan akan
mewariskan bumi-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang soleh, sabar dan bertakwa!
Firaun bertujuan melemahkan
kedudukan Nabi Musa dengan tindakan kejamnya terhadap Bani Israil yang
merupakan kaumnya, bahkan tulang belakang Nabi Nusa. Akan tetapi gerak dakwah
Nabi Musa tidak sedikit pun terhambat oleh tindakan Firaun itu. Demikian pula
tidak seorang pun drp pengikut-pengikutnya yang terpengaruh dengan tindakan
Firaun itu. Sehingga tidak menjadi luntur iman dan keyakinan mrk yang sudah
bulat terhadap risalah Musa.
Karena sasaran yang dituju dengan
tindakan kekejaman yang tidak berperikamanusiaan itu tidak tercapai dan tidak
dpt menerima dakwah Nabi Musa dan para pengikutnya, yang dilhatnya bahkan
semakin bersemangat menyiarkan ajaran iman dan tauhid, maka Firaun tidak
mempunyai pilihan selain harus menyingkirkan orang yang menjadi pengikutnya,
yaitu dengan membunuh Nabi Musa.
Firaun memanggil para penasihat dan
pembesar-pembesar kerajaannya untuk bermesyuarat dan merancang pembunuhan Musa.
Di antara mereka yang di undang itu terdapat seorang mukmin dari Keluarga
Firaun yang merahsiakan imannya.
Di tengah-tengah perdebatan dan perundingan
yang berlangsung dalam pertemuan yang diadakan oleh Firaun untuk membincangkan
cara pembunuhan Nabi Musa itu, bangkitlah berdiri mukmin itu mengucapkan
pembelaannya terhadap Nabi Musa dan nasihat serta tuntunan bagi mereka yang
hadir. Ia berkata: "Apakah kamu akan membunuh seseorang lelaki yang tidak
berdosa, hanya berkata bahwa Allah adalah Tuhannya? Padahal ia menyatakan iman
dan kepercayaannya itu kepada kamu bukan tanpa dalil dan hujjah. Ia telah
mempertunjukkan kepada kamu bukti-bukti yang nyata untuk menyakinkan kamu akan
kebenaran ajarannya. Jika andainya dia seorang pendusta, maka dia sendirilah
yang akan menanggung dosa akibat dustanya. Namun jika ia adalah benar dalam
kata-katanya, maka nescaya akan menimpa kepada kamu bencana azab yang telah
dijanjikan olehnya. Dan dalam keadaan yang demikian siapakah yang akan menolong
kamu dari azab Allah yang telah dijanjikan itu?"
Firaun memotong pidato orang mukmin
itu dengan berkata: "Rancanganku harus terlaksana dan Musa harus dibunuh.
Aku tidak mengemukan kepadamu melainkan apa yang aku pandang baik dan aku tidak
menunjukkan kepadamu melainkan jalan yang benar, jalan yang akan menyelamatkan
kerajaan dan negara."
Berucap orang mukmin dari keluarga
Firaun itu melanjutkan: "Sesungguhnya aku khuatir, jika kamu tetap
berkeras kepala dan enggan menempuh jalan yang benar yang dibawa oleh para
nabi-nabi, bahwa kamu akan ditimpa azab dan seksa yang membinasakan ,
sebagaimana telah dialami oleh kaum Nuh, kaum Aad, kaum Tsamud dan umat-umat
yang datang sesudah mereka. Apa yang telah dialami oleh kaum-kaum itu adalah
akibat kecongkakan dan kesombongan mereka karena Allah tidak menghendaki
berbuat kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya".
Mukmin itu meneruskan
nasihatnya:"Wahai kaumku! Sesungguhnya aku khuatir kamu akan menerima
seksa dan azab Tuhan di hari qiamat kelak, di mana kamu akan berpaling
kebelakang, tidak seorang pun akan dapat menyelamatkan kamu itu dari seksa
Allah. Hai kaum ikutilah nasihatku, aku hanya ingin kebaikan bagimu dan
mengajak kamu ke jalan yang benar. Ketahuilah bahwa kehidupan di dunia ini
hanya merupakan kesenangan sementara, sedangkan kesenangan dan kebahagiaan yang
kekal adalah di akhirat kelak."
Orang mukmin dari keluarga Firaun
itu tidak dpt mengubah sikap Firaun dan pengikut-pemgikutnya, walaupun ia telah
berusaha dengan menggunakan kecekapan berpidatonya dan susunan kata-katanya
yang rapi, lengkap dengan contoh-contoh dari sejarah umat-umat yang terdahulu
yang telah dibinasakan oleh Allah karena perbuatan dan pembangkangan mereka sendiri.
Firaun dan pengikut-pengikutnya
bahkan menganjurkan kepada orang mukmin itu, agar meninggalkan sikapnya yang
membela Musa dan menyetujui rancangan jahat mereka. Ia dinasihat untuk
melepaskan pendiriannya yang pro Musa dan mengabungkan diri dalam barisan
mereka menentang Musa dan segala ajarannya. Ia diancam dengan dikenakan
tindakan kekerasan bila ia tidak mahu mengubah sikap pro kepada Musa secara
suka rela.
Berkata orang mukmin itu menanggapi
anjuran Firaun: "Wahai kaumku, sgt aneh sekali sikap dan pendirianmu, aku
berseru kepada kamu untuk kebaikan dan keselamatanmu, kamu berseru kepadaku
untuk berkufur kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan apa yang aku tidak
ketahui, sedang aku berseru kepadamu untuk beriman kepada Allah, Tuhan YAng
Maha Esa, Maha Perkasa, lagi Maha Pengampun. Sudah pasti dan tidak dapat
diragukan lagi, bahwa apa yang kamu serukan kepadaku itu tidak akan menolongku
dari murka dan seksa Allah di dunia mahupun di akhirat. Dan sesungguhnya kamu
sekalian akan kembali kepada Allah yang akan memberi pahala syurga bagi
orang-orang yang soleh, bertakwa dan beriman, sedang orang-orang kafir yang
telah melampaui batas akan diberi ganjaran dengan api neraka. Hai kaumku
perhatikanlah nasihat dan peringatanku ini. Kamu akan menyedari kebenaran
kata-kataku ini kelak bila sudah tidak berguna lagi orang menyesal atau merasa
susah karena perbuatan yang telah dilakukan. Aku hanya menyerahkan urusan ku
dan nasibku kepada Allah. Dialah Yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat
perbuatan dan kelakuan hamba-hamba-Nya."
Firaun menghina dan mengejek Musa
Selain tindakan kekerasan yang
ditimpakan ke atas Bani Israil kaumnya Nabi Musa, Firaun melontarkan penghinaan
dan kata-kata ejekan terhadap Nabi Musa dalam usahanya memerangi dan membendung
pengaruh Nabi Musa yang semakin beertambah semenjak ia keluar sebagai pemenang
dalam pertandingan melawan tukang-tukang sihir kaum Firaun.
Berkata Firaun kepada
pembesar-pembesar kerajaannya: "Biarkanlah aku membunuh Musa dan biarlah
ia memohon dari Tuhannya untuk melindunginya. Aku ingin tahu sampai sejauh mana
ia dapat melepaskan diri dari kekuasaanku dan biarlah ia membuktikan kebenaran
kata-kata, bahwa Tuhannya akan melindunginya dari segala tipu daya
musuh-musuhnya."
Dalam lain kesempatan Firaun berkata
kepada rakyatnya yang sudah diperhambakan jiwanya, terbiasa memuja-mujanya,
mengiakan kata-katanya dan mengaminkan segala perintahnya: "Hai rakyatku!
Tidakkah kamu melihat bahwa aku memiliki kerajaan Mesir yang megah dan besar
ini di mana sungai-sungai mengalir dibawah telapak kakiku, sungai-sungai yang
memberi kemakmuran hidup dan kebahagiaan hidup bagi rakyatku? Dan tidakkah kamu
melihat kekuasaanku yang luas dan ketaatan rakyatku yang bulat kepadaku?
Bukankah aku lebih baik dan lebih agung dari Musa yang hina-dina itu yang tidak
cekap menguraikan isi hatinya dan menerangkan maksud tujuannya. Megapa Tuhannya
tidak memakaikan gelang emas, sebagaimana lazimnya orang-orang yang diangkat
menjadi raja, pemimpin atau pembesar? Atau mengapa ia tidak diiringi oleh
malaikat-malaikat sebagai tanda kebesarannya dan bukti kebenarannya bahwa ia
adalah pesuruh Tuhannya?"
Kelompok orang yang mendengar
kata-kata Firaun itu dengan serta-merta mengiyakan dan membenarkan kata-kata
rajanya serta menyatakan kepatuhan yang bulat kepada segala titah dan
perintahnya sebagai warga yang setia kepada rajanya, namun zalim dan fasiq
terhadap Tuhannya.
Dalam pada itu kesabaran Nabi Musa
sampai pd puncaknya, melihat Firaun dan pembantu-pambantunya tetap berkeras
kepala menentang dakwahnya, mendustakan risalahnya dan makin memperhebatkan
tindakan kejamnya terhadap kaum Bani Israil terutama para pengikutnya yang
menyembunyikan imannya karena ketakutan daripada kejaran Firaun dan
pembalasannya yang kejam dan tidak berperikemanusiaan. Maka disampaikan oleh Nabi
Musa kepada mrk bahwa Allah tidak akan membiarkan mereka terus-menerus
melakukan kekejaman, kezaliman dan penindasan terhamba-hamba-Nya dan berkufur
kepada Allah dan Rasul-Nya. Akan ditimpakan oleh Allah kepada mereka bila tetap
tidak mahu sedar dan beriman kepada-Nya, bermacam azb dan seksa di dunia semasa
hidup mereka sebagai pembalasan yang nyata!
Berdoalah Nabi Musa, memohon kepada
Allah: "Ya Tuhan kami, engkau telah memberi kepada Firaun dan kaum
kerabatnya kemewahan hidup, harta kekayaan yang meluap-luap dan kenikmatan
duniawi, yang kesemua itu mengakibatkan mereka menyesatkan manusia,
hamba-hamba-Mu, dari jalan yang Engkau redhai dan tuntunan yang Engkau berikan.
Ya Tuhan kami, binasakanlah harta-benda mereka dan kunci matilah hati mereka.
Mrk tidak akan beriman dan kembali kepada jalan yang benar sebelum melihat
seksaan-Mu yang pedih."
Berkat doa Nabi Musa dan
permohonannya yang diperkenankan oleh Allah, maka dilandakanlah kerajaan Firaun
oleh krisis kewangan dan makanan, yang disebabkan mengeringnya sungai Nil
sehingga tidak dapat mengairi sawah-sawah dan ladang-ladang disamping serangan
hama yang ganas yang telah menghabiskan padi dan gandum yang sudah menguning
dan siap untuk diketam.
Belumlagi krisis kewangan dan
makanan teratasi datang menyusul bala banjir yang besar disebabkan oleh hujan
yang turun dengan derasnya, sehingga menghanyutkan rumah-rumah, gedung-gedung
dan membinasakan binatang-binatang ternak. Dan sebagai akibat dari banjir itu
berjangkitlah bermacam-macam wabak dan penyakit yang merisaukan masyarakat
seperti hidung berdarah dan lain-lain. Kemudian datanglah barisan kutu-kutu
busuk dan katak-katak yang menyerbu ke dalam rumah-rumah sehingga mengganggu
ketenteraman hidup mereka,menghilangkan kenikmatan makan, minum dan tidur, disebabkan
menyusupnya binatang-binatang itu ke dalam tempat-tempat tidur, hidangan
makanan dan di antara sela-sela pakaian mereka.
Pada waktu azab menimpa dan
bencana-bencana itu sedang melanda berdatanglah mereka kepada Nabi Musa minta
pertolongannya demi kenabiannya, agar memohonkan kepada Allah mengangkat bala
itu dari atas mereka dengan perjanjian bahwa mrk akan beriman dan menyerahkan
Bani Israil kepada Nabi Musa sekirannya mereka dpt ditolong dan terhindar dari
azab bala itu.
Akan tetapi begitu bala-bala itu
tercabut dari atas mrk dan hilanglah gangguan yang diakibatkan olehnya, mrk
mengingkari janji mereka dan kembali bersikap memusuhi dan menentang Nabi Musa,
seolah-olah apa yang terjadi bukanlah karena doa dan permohonan Musa kepada
Allah tetapi karena hasil usaha mrk sendiri.
Kaum Bani Israil keluar dari Mesir
Bani Israil yang cukup menderita
akibat tindasan Firaun dan kaumnya cukup merasakan penganiayaan dan hidup dalam
ketakutan di bawah pemerintahan Firaun yang kejam dan bengis itu, pada akhirnya
sedar bahwa Musalah yang benar-benar dikirimkan oleh Allah untuk membebaskan
mereka dari cengkaman Firaun dan kaumnya. Maka berduyun-duyunlah mereka datang
kepada Nabi Musa memohon pertolongannya agar mengeluarkan mereka dari Mesir.
Kemudian bertolaklah rombongan kaum
Bani Israil di bawah pimpinan Nabi Musa meninggalkan Mesir menuju Baitul
Maqdis. Dengan berjalan kaki dengan cepat karena takut tertangkap oleh Firaun
dan bala tenteranya yang mengejar mereka dari belakang akhirnya tibalah mereka
pada waktu fajar di tepi lautan merah setelah selama semalam suntuk dapat
melewati padang pasir yang luas.
Rasa cemas dan takut makin mencekam
hati para pengikut Nabi Musa dan Bani Israil ketika melihat laut terbentang di
depan mereka sedang dari belakang mrk dikejar oleh Firaun dan bala tenteranya
yang akan berusaha mengembalikan mereka ke Mesir. Mereka tidak meragukan lagi
bahwa bila mrk tertangkap, maka hukuman matilah yang akan mereka terima dari
Firaun yang zalim itu.
Berkatalah salah seorang dari
sahabat Nabi Musa, bernama Yusha bin Nun: "Wahai Musa, ke mana kami harus
pergi?" Musuh berada di belakang kami sedang mengejar dan laut berada di
depan kami yang tidak dapat dilintasi tanpa sampan. Apa yang harus kami perbuat
untuk menyelamatkan diri dari kejaran Firaun dan kaumnya?"
Nabi Musa menjawab: "Janganlah
kamu khuatir dan cemas, perjalanan kami telah diperintahkan oleh Allah
kepadaku, dan Dialah yang akan memberi jalan keluar serta menyelamatkan kami
dari cengkaman musuh yang zalim itu."
Pada saat yang kritis itu, di mana
para pengikut Nabi Musa berdebar-debar ketakutan, seraya menanti tindakan Nabi
Musa yang kelihatan tenang sahaja, turunlah wahyu Allah kepada Nabi-Nya dengan
perintah agar memukulkan air laut dengan tongkatnya. Maka dengan izin Allah
terbelah laut itu, tiap-tiap belahan merupakan seperti gunung yang besar. Di
antara kedua belahan air laut itu terbentang dasar laut yang sudah mengering
yang segera di bawah pimpinan Nabi Musa dilewatilah oleh kaum Bani Israil
menuju ke tepi timurnya.
Setelah mereka sudah berada di
bahagian tepi timur dalam keadaan selamat terlihatlah oleh mereka Firaun dan
bala tenteranya menyusuri jalan yang sudah terbuka di antara dua belah gunung
air itu. Kembali rasa cemas dan takut mengganggu hati mereka seraya memandang
kepada Nabi Musa seolah-olah bertanya apa yang hendak dia lakukan selanjutnya.
Dalam pada itu Nabi Musa telah diilhamkan oleh Allah agar bertenang menanti
Firaun dan bala tenteranya turun semua ke dasar laut. Karena takdir Allah tela
mendahului bahwa mrk akan menjadi bala tentera yang tenggelam.
Berkatalah Firaun kepada kaumnya
tatkala melihat jalan terbuka bagi mereka di antara dua belah gunung air itu:
"Lihat bagaimana lautan terbelah menjadi dua, memberi jalan kepada kami
untuk mengejar orang-orang yang melarikan diri itu. Mrk mengira bahwa mrk akan
dpt melepaskan dari kejaran dan hukumanku. Mrk tidak mengetahui bahwa
perintahku berlaku dan ditaati oleh laut, jgn lagi oleh manusia. Tidakkah ini
semuanya membuktikan bahwa aku adalah yang berkuasa yang harus disembah olehmu?"
Maka dengan rasa bangga dan sikap sombongnya turunlah Firaun dan bala
tenteranya ke dasar laut yang sudah mengering itu melakukan gerak-cepatnya
untuk menyusul Musa dan Bani Israil yang sudah berada di tepi bahagian timur
sambil menanti hukuman Allah yang telah ditakdirkan terhamba-hamba-Nya yang
kafir itu.
Demikianlah maka setelah Firaun dan
bala tenteranya berada di tengah-tengah lautan yang membelah itu, jauh dari ke
dua tepinya, tibalah perintah Allah dan kembalilah air yang menggunung itu
menutupi jalur jalan yang terbuka di mana Firaun dengan sombongnya sedang
memimpin barisan tenteranya mengejar Musa dan Bani Israil. Terpendamlah mrk
hidup-hidup di dalam perut laut dan berakhirlah riwayat hidup Firaun dan
kaumnya untuk menjadi kenangan sejarah dan ibrah bagi generasi- akan datang.
Pada detik-detik akhir hayatnya,
seraya berjuang untuk menyelamatkan diri dari maut yang sudah berada di depan
matanya, berkatalah Firaun: "Aku percaya bahwa tiada tuhan selain Tuhan
Musa dan Tuhan Bani Israil. Aku beriman pada Tuhan mereka dan berserah diri
kepada-Nya sebagai salah seorang muslim."
Berfirmanlah Allah kepada Firaun
yang sedang menghadapi sakaratul-maut: "Baru sekarangkah engkau berkata
beriman kepada Musa dan berserah diri kepada-Ku? Tidakkah kekuasaan ketuhananmu
dapat menyelamatkan engkau dari maut? Baru sekarangkah engkau sadar dan percaya
setelah sepanjang hidupmu bermaksiat, melakukan penindasan dan kezaliman
terhadap hamba-hamba-Ku dan berbuat-sewenang-wenang, merusak akhlak dan aqidah
manusia-manusia yang berada di bawah kekuasaanmu. Terimalah sekarang
pembalasan-Ku yang akan menjadi pengajaran bagi orang-orang yang akan datang
sesudahmu. Akan Aku apungkan tubuh kasarmu untuk menjadi peringatan bagi
orang-orang yang meragukan akan kekuasaan-Ku."
Bani Israil pengikut-pengikut Nabi
Musa masih meragukan kematian Firaun. Mrk masih terpengaruh dengan kenyataan
yang ditanamkan oleh Firaun semasa ia berkuasa sebagai raja bahwa dia adalah
manusia luar biasa lain drp yang lain dan bahwa dia akan hidup kekal sebagai
tuhan dan tidak akan mati. Khayalan yang masih melekat pd fikiran mrk
menjadikan mrk tidak mahu percaya bahwa dengan tenggelamnya, Firaun sudah mati.
Mrk menyatakan kepada Musa bahwa Firaun mungkin masih hidup namun di alam lain.
Nabi Musa berusaha menyakinkan
kaumnya bahwa apa yang terfikir oleh mrk tentang Firaun adalah suatu khayalan
belaka dan bahwa Firaun sebagai orang biasa telah mati tenggelam akibat
pembalasan Allah atas perbuatannya, menentang kekuasaan Allah mendustakan Nabi
Musa dan menindaskan serta memperhambakan Bani Israil. Dan setelah melihat
dengan mata kepala sendiri, tubuh-tubuh Firaun dan orang-orangnya
terapung-apung di permukaan air, hilanglah segala tahayul mrk tentang Firaun
dan kesaktiannya.
Menurut catatan sejarah, bahwa mayat
Firaun yang terdampar di pantai diketemukan oleh orang-orang Mesir, lalu diawet
hingga utuh sampai sekarang, sebagai mana dpt dilihat di muzium Mesir. (kisah)
QARUN
Kita tentu sering mendengar istilah
harta karun. Harta karun identik dengan harta temuan yg umumnya disembunyikan
di dalam tanah. Namun, tahukah Anda bahwa harta karun dapat pula diartikan
sebagai harta milik Qarun? Lantas siapa Qarun? Apa hubungannya harta karun
dengan harta Qarun?
Qarun termasuk kaum Nabi Musa as,
berkebangsaan Israel, dan bukan berasal dari suku Qibthi (Gypsy, bangsa Mesir).
Allah SWT mengutus Musa kepadanya seperti diutusnya Musa kepada Fir’aun dan
Haman. Qarun dikaruniai harta yang amat sangat banyak. Bahkan Qarun mempunyai
sebuah gudang harta yang sangat besar, sehingga untuk mengangkat kunci
gudangnya saja diperlukan puluhan lelaki kuat dan kekar. Dapat dibayangkan
betapa luar biasa kayanya Qarun.
Namun Qarun mempergunakan harta ini
dalam kesesatan, kezaliman dan permusuhan serta membuatnya sombong. Qarun mabuk
dan terlena oleh melimpahnya harta dan kekayaan, sehingga membuatnya buta dari
kebenaran dan tuli atas nasihat-nasihat orang mukmin. Ketika mereka meminta
Qarun untuk bersyukur kepada Allah atas segala nikmat harta kekayaan dan
memintanya untuk memanfaatkan hartanya dalam hal yang bermanfaat, kebaikan dan
hal yang halal karena semua itu adalah harta Allah, ia justru menolak seraya
mengatakan “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada
padaku”.
Suatu hari, keluarlah ia kepada
kaumnya dengan kemegahan dan rasa bangga, sombong dan congkaknya. Maka
hancurlah hati orang fakir dan silaulah penglihatan mereka seraya berkata,
“Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa diberikan kepada Qarun;
sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. Akan tetapi
orang-orang mukmin yang dianugerahi ilmu menasihati orang-orang yang tertipu
seraya berkata, “Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih
baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh….”
Akhirnya murka dan siksa Allah
menimpanya akibat hartanya. Allah membenamkan harta dan rumahnya ke dalam bumi,
lalu terbelah dan mengangalah bumi, maka tenggelamlah ia beserta harta yang
dimilikinya dengan disaksikan oleh orang-orang Bani Israil. Tidak seorangpun
yang dapat menolong dan menahannya dari bencana itu, tidaklah bermanfaat harta
kekayaan dan perbendaharannya.
Ketika Bani Israil melihat azab yang
menimpa Qarun dan hartanya, bertambahlah keimanan orang-orang yang beriman dan
sabar. Adapun mereka yang telah tertipu dan pernah berangan-angan seperti
Qarun, akhirnya mengetahui hakikat yang sebenarnya dan terbukalah tabir
keimanan mereka, lalu mereka memuji Allah karena tidak mengalami nasib seperti
Qarun. Mereka berkata, “Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezeki bagi siapa
saja yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya; kalau Allah
tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita
(pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang-orang yang mengingkari (nikmat
Allah).”
Kisah Qarun dan hartanya yang
dibenamkan ke dalam bumi terus melekat hingga sekarang dan menjadi pelajaran
bagi orang-orang yang beriman. Makanya, ketika seseorang menemukan harta
terpendam dalam tanah, maka ia akan berkata mendapat harta karun, yang diyakini
merupakan sisa-sisa harta milik Qarun yang ditelan bumi akibat azab Allah.
Subhanallah… alangkah indah jika harta titipan Allah ini dapat kita pergunakan
di jalan yang diridhoi-Nya.
Menurut sejarah pada waktu Nabi Musa
bersama kaumnya keluar dari negeri Mesir menuju Palestina dikejar oleh Fir'aun
dan balatentaranya, mereka harus melalui laut merah sebelah utara, maka Allah
memerintahakan kepada Musa memukul laut itu, dengan tongkatnya, perintah itu
dilaksanakan oleh Musa hingga terbelahlah laut merah tersebut dan terbentanglah
jalan raya di tengah-tengahnya, dan Musa melalui jalan itu sampai selamatlah
Musa dan kaumnya ke seberang. . Sedang Fir'aun dan pengikut- pengikutnya
melalui jalan itu pula, tetapi diwaktu mereka berada di tengah-tengah laut,
kembali laut itu sebagaimana semula, lalu tenggelamlah Fir'aun dan
balatentaranya dilaut merah itu.
KESOMBONGAN DAN KEGANASAN FIR'AUN
Fir'aun adalah gelar bagi raja-raja
Mesir purbakala, menurut sejarah, ini Fir'aun dimasa Nabi Musa tercantum dalam
Surat Al- Qashash ayat 38 menyebutkan : Ketika Fir'aun tidak kuasa lagi
mendebat Musa. ia tetap bersikap sewenag-wenang berkata: " Wahai
masyarakat sekalian, aku tidak mengetahui adanya Tuhan bagi kalian selain
diriku" Kemudian ia memerintahkan mentrinya, Haman, untuk memperkerjakan
oran-orang agar membuat bangunan dan istana yang tinggi agar Fir'aun dapat
menaikinya untuk melihat Tuhan yang diserukan Musa, Maka dengan begitu Fir'aun
dapat lebih yakin bahwa Musa termasuk dalam golongan para pendusta dalam
anggapannya.
Fir'aun dan balatentaranya tetap
angkuh dengan kebatilan di muka bumi, Maka Allah menenggelamkan Fir'aun dan
balatentaranya dilaut merah utara, menurut sejarah setelah beberapa tahun,
Allah menyelamatkan tubuh kasarnya dan terdampar dipinggir laut ditemukan oleh
orang Mesir kemudian di balsem, masih utuh sampai sekarang ada di musium Tahrir
yang berada di tengah kota Cairo.
Allah menyelamatkan tubuh kasar
Fir'aun sebagai peringatan bagi manusia-manusia belakangan.
Rahmat Mulyadi:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar