Nabi
Yakub bin Ishak bin Ibrahim itu di samping bernama Yasykur juga bernama
Israil. Oleh karena itu keturunannanya disebut Bani Israil. Mereka oleh
Allah diberi tempat tinggal bernama Palestina. Dikarenakan kurang
bersyukur kepada nikmat Allah, mereka memperoleh cobaan dari Allah,
negara mereka dijajah oleh bangsa Jababirah, bangsa yang bertubuh kekar
dan besar. Akhirnya mereka mengungsi ke Mesir.
Di
Mesir mereka diperbudak oleh Raja Fir’aun, raja diktator yang
menganggap dirinya tuhan. Maka Allah mengutus Nabi Musa agar membebaskan
Bani Israil dari cengkeraman Fir’aun.
Ketika
Bani Israil sudah diorganisir oleh Nabi Musa untuk meninggalkan Mesir,
maka Fir’aun dan balatentaranya mengejarnya sampai di perbatasan
(pantai) laut merah, dan di sanalah Musa terkepung oleh balatentara
Fir’aun. Lalu Allah mewahyukan kepada Nabi Musa, agar memukulkan
tongkatnya ke permukaan laut, maka segeralah dia memukulkan tongkatnya,
dan tiba-tiba air laut itu terbelah menjadi dua bagian yang sekaligus
tengah-tengah (belahan) itu menjadi jalan yang bisa dilewati. Nabi Musa
beserta pengikutnya melewati tengah-tengah jalan lautan itu. Dan tidak
lama kemudian Fir’aun beserta balatentaranya menyusul melewati jalan
tersebut sambil merasa takut. Setelah Nabi Musa dan pengikut-pengikutnya
sampai di daratan, maka Allah memerintahkan kepada Nabi Musa agar
secepatnya memukulkan tongkatnya ke lautan dan seketika itu pula Nabi
Musa memukulkan tongkatnya, tiba-tiba air lautan yang terbelah itu
kembali seperti air laur semula, maka tenggelamlah Fir’aun dan bala
tentaranya di dalam air laut merah.
Tamatlah
riwayat Fir’aun dan balatentaranya yang sangat kejam dan dholim di muka
bumi ini, dan peristiwa ini dapatlah dijadikan sebagai peringatan bagi
umat sesudahnya. Peristiwa sejarah sebagaimana tersebut di atas telah
disebutkan Allah dalam ayat-ayat berikut :
وَلَقَدْ
أَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي فَاضْرِبْ لَهُمْ
طَرِيقًا فِي الْبَحْرِ يَبَسًا لا تَخَافُ دَرَكًا وَلا تَخْشَى
(٧٧)فَأَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ بِجُنُودِهِ فَغَشِيَهُمْ مِنَ الْيَمِّ مَا
غَشِيَهُمْ (٧٨)
Dan
sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa: “Pergilah kamu dengan
hamba-hamba_Ku (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka
jalan yang kering dilaut itu, kamu tak usah khawatir akan tersusul dan
tidak usah takut (akan tenggelam)”. Maka Fir’aun dengan bala tentaranya
mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan
mereka. (Q.S. Thaha: 77-78)
وَأَوْحَيْنَا
إِلَى مُوسَى أَنْ أَسْرِ بِعِبَادِي إِنَّكُمْ مُتَّبَعُونَ
(٥٢)فَأَرْسَلَ فِرْعَوْنُ فِي الْمَدَائِنِ حَاشِرِينَ (٥٣)إِنَّ هَؤُلاءِ
لَشِرْذِمَةٌ قَلِيلُونَ (٥٤)وَإِنَّهُمْ لَنَا لَغَائِظُونَ (٥٥)وَإِنَّا
لَجَمِيعٌ حَاذِرُونَ (٥٦)فَأَخْرَجْنَاهُمْ مِنْ جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ
(٥٧)وَكُنُوزٍ وَمَقَامٍ كَرِيمٍ (٥٨)كَذَلِكَ وَأَوْرَثْنَاهَا بَنِي
إِسْرَائِيلَ (٥٩)فَأَتْبَعُوهُمْ مُشْرِقِينَ (٦٠)فَلَمَّا تَرَاءَى
الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَى إِنَّا لَمُدْرَكُونَ (٦١)قَالَ كَلا
إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ (٦٢)فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنِ
اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ
الْعَظِيمِ (٦٣)وَأَزْلَفْنَا ثَمَّ الآخَرِينَ (٦٤)وَأَنْجَيْنَا مُوسَى
وَمَنْ مَعَهُ أَجْمَعِينَ (٦٥)ثُمَّ أَغْرَقْنَا الآخَرِينَ (٦٦)إِنَّ فِي
ذَلِكَ لآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ (٦٧)وَإِنَّ رَبَّكَ
لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ (٦٨)
dan
Kami wahyukan (perintahkan) kepada Musa: “Pergilah di malam hari dengan
membawa hamba-hamba-Ku (Bani Israil), karena Sesungguhnya kamu sekalian
akan disusuli”. kemudian Fir’aun mengirimkan orang yang mengumpulkan
(tentaranya) ke kota-kota. (Fir’aun berkata): “Sesungguhnya mereka (Bani
Israil) benar-benar golongan kecil, dan sesungguhnya mereka membuat
hal-hal yang menimbulkan amarah kita, dan sesungguhnya kita benar-benar
golongan yang selalu berjaga-jaga”. Maka Kami keluarkan Fir’aun dan
kaumnya dari taman-taman dan mata air, dan (dari) perbendaharaan dan
kedudukan yang mulia, Demikianlah halnya dan Kami anugerahkan semuanya
(Itu) kepada Bani Israil. Maka Fir’aun dan bala tentaranya dapat
menyusuli mereka di waktu matahari terbit. Maka setelah kedua golongan
itu saling melihat, berkatalah Pengikut-pengikut Musa: “Sesungguhnya
kita benar-benar akan tersusul”. Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan
tersusul; Sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi
petunjuk kepadaku”. lalu Kami wahyukan kepada Musa: “Pukullah lautan itu
dengan tongkatmu”. Maka terbelahlah lautan itu dan tiap-tiap belahan
adalah seperti gunung yang besar. dan di sanalah Kami dekatkan golongan
yang lain. dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya
semuanya. dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu. Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar merupakan suatu tanda yang besar
(mukjizat) dan tetapi adalah kebanyakan mereka tidak beriman. dan
Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Dialah yang Maha Perkasa lagi Maha
Penyayang. (Q.S. Asy-Su’ara: 52-68).
وَلَقَدْ
فَتَنَّا قَبْلَهُمْ قَوْمَ فِرْعَوْنَ وَجَاءَهُمْ رَسُولٌ كَرِيمٌ
(١٧)أَنْ أَدُّوا إِلَيَّ عِبَادَ اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ
(١٨)وَأَنْ لا تَعْلُوا عَلَى اللَّهِ إِنِّي آتِيكُمْ بِسُلْطَانٍ مُبِينٍ
(١٩)وَإِنِّي عُذْتُ بِرَبِّي وَرَبِّكُمْ أَنْ تَرْجُمُونِ (٢٠)وَإِنْ
لَمْ تُؤْمِنُوا لِي فَاعْتَزِلُونِ (٢١)فَدَعَا رَبَّهُ أَنَّ هَؤُلاءِ
قَوْمٌ مُجْرِمُونَ (٢٢)فَأَسْرِ بِعِبَادِي لَيْلا إِنَّكُمْ مُتَّبَعُونَ
(٢٣)وَاتْرُكِ الْبَحْرَ رَهْوًا إِنَّهُمْ جُنْدٌ مُغْرَقُونَ (٢٤)كَمْ
تَرَكُوا مِنْ جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (٢٥)وَزُرُوعٍ وَمَقَامٍ كَرِيمٍ
(٢٦)وَنَعْمَةٍ كَانُوا فِيهَا فَاكِهِينَ (٢٧)كَذَلِكَ وَأَوْرَثْنَاهَا
قَوْمًا آخَرِينَ (٢٨)فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاءُ وَالأرْضُ وَمَا
كَانُوا مُنْظَرِينَ (٢٩)وَلَقَدْ نَجَّيْنَا بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنَ
الْعَذَابِ الْمُهِينِ (٣٠)مِنْ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ كَانَ عَالِيًا مِنَ
الْمُسْرِفِينَ (٣١)
Sesungguhnya
sebelum mereka telah Kami uji kaum Fir’aun dan telah datang kepada
mereka seorang Rasul yang mulia, (dengan berkata): “Serahkanlah kepadaku
hamba-hamba Allah (Bani Israil yang kamu perbudak). Sesungguhnya aku
adalah utusan (Allah) yang dipercaya kepadamu, dan janganlah kamu
menyombongkan diri terhadap Allah. Sesungguhnya aku datang kepadamu
dengan membawa bukti yang nyata dan Sesungguhnya aku berlindung kepada
Tuhanku dan Tuhanmu, dari keinginanmu merajamku, dan jika kamu tidak
beriman kepadaku Maka biarkanlah aku (memimpin Bani Israil)”. kemudian
Musa berdoa kepada Tuhannya: “Sesungguhnya mereka ini adalah kaum yang
berdosa (segerakanlah azab kepada mereka)”. (Allah berfirman): “Maka
berjalanlah kamu dengan membawa hamba-hamba_Ku pada malam hari,
Sesungguhnya kamu akan dikejar, dan biarkanlah laut itu tetap terbelah.
Sesungguhnya mereka adalah tentara yang akan ditenggelamkan”. Alangkah
banyaknya taman dan mata air yang mereka tinggalkan, dan kebun-kebun
serta tempat-tempat yang indah-indah, dan kesenangan-kesenangan yang
mereka menikmatinya, demikianlah dan Kami wariskan semua itu kepada kaum
yang lain. Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan merekapun
tidak diberi tangguh. dan Sesungguhnya telah Kami selamatkan Bani Israil
dari siksa yang menghinakan, dari (azab) Fir’aun. Sesungguhnya Dia
adalah orang yang sombong, salah seorang dari orang-orang yang melampaui
batas. (Q.S. Ad-Dukhan: 17-31).
Peristiwa
tenggelamnya Fir’aun dan balatentaranya dan selamatnya Bani Israil dari
cengkraman Fir’aun itu terjadi pada tanggal 10 bulan Muharrom atau pada
hari Asyuro. Oleh karenanya kaum Yahudi di Madinah pada zaman Nabi
Muhammad SAW melakukan puasa pada hari Asyuro untuk mengenang peristiwa
tersebut. Hal itu disebutkan dalam hadits sebagai berikut :
قَدِمَ
النَّبِيُّ صَلَّى الهُم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَرَأَى
الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا قَالُوا هَذَا
يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ
عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا قَالَ فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى
مِنْكُمْ نَحْنُ نَصُوْمُهُ تَعْظِيْمًا لَهُ
“Nabi
SAW tiba di Madinah, kemudian beliau melihat orang-orang Yahudi
berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya : ”Apa ini?” Mereka menjawab
:”Sebuah hari yang baik, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan bani
Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu sebagai
wujud syukur. Maka Rasulullah bersabda : ”Aku lebih berhak terhadap Musa
daripada kalian (Yahudi), maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai
bentuk pengagungan kami terhadap hari itu.” [H.R. Bukhori: 2/244].
Maka
Nabi SAW dan para sahabatnya selalu melakukan puasa sunnah pada hari
Asyuro, dan agar berbeda dari kaum Yahudi puasa sunnah ditambah satu
hari pada tanggal 9 Nuharrom atau hari Tasu’a.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar