Kajian – Sifat Fir’aun Menurut Al
Qur’an
Sifat Fir’aun Menurut Al Qur’an
Hasil
pelbagai penelitian ilmiah satu persatu telah menguak tentang sosok Fir’aun
secara fisik. Para peneliti pun berhasil mengidentifikasi apakah Fir’aun yang
tertera dalam kitab suci Alquran maupun Agama Samawi seperti Taurat dan Injil
yang bertemu langsung dengan Nabi Musa AS itu satu orang yang sama atau
berbeda, siapa namanya dan direntang waktu mana – baca ganaislamika.com Fir’aun
di Zaman Nabi Musa (1).
Terlepas
dari bukti-bukti fisik Raja Mesir Kuno itu, Alquran pun mendefinisikan Fir’aun
sebagai sifat-sifat yang harus dijadikan pengingat dan pelajaran manusia.
“Maka
pada hari ini Kami selamatkan jasadmu agar engkau dapat menjadi pelajaran
bagi orang-orang yang datang setelahmu, tetapi kebanyakan manusia tidak
mengindahkan tanda-tanda (kekuasan) Kami.”
(QS Yunus: 92)
Kekejaman
dan kebengisan Fir’aun telah menjadi semacam lambang kebiadaban dan
kesombongan. Dalam bahasa Arab pun, kata Tafar’ana memiliki sinonim Takabbaro,
yaitu kata yang memiliki arti menyombongkan diri atau memfir’aunkan diri.
Menurut
Muhammad bin Alwi BSA dalam bukunya berjudul 25 Hidangan dari Al Qur’an, setiap
Muslimin harus mengenali sifat-sifat Fir’aun untuk mengetahui siapa saja yang
mengikuti jejak kedzolimannya. Apa saja sifat-sifat yang diterangkan oleh Al
Qur’an:
- Manusia Paling Congkak
Fir’aun
telah berani memakai pakaian kesombongan yang sebenarnya hanya miliki Allah.
“Dan
sungguh, Firaun itu benar-benar telah berbuat sewenang-wenang di bumi.” (QS. Yunus:83)
- Melampaui Batas
Segala
sesuatu memiliki takaran namun terkait Fir’aun Al Qur’an mensifati
dirinya sebagai manusia yang melampaui batas untuk segala hal. Dia melakukan
apapun yang diinginkan.
“Pergilah
kepada Fir’aun; dia benar-benar telah melampaui batas.” QS. Thaha: 24.
- Selalu Membodohi Rakyat
Fir’aun
membodohi kaumnya dengan menyebarkan kekerasan sehingga rakyat takut, kadang
pula dengan rayuan sehingga tidak ada lagi yang berani melakukan perlawanan.
Membodohi rakyat adalah caranya untuk melanggengkan kekuasaan.
“Maka
Fir’aun dengan perkataan itu telah mempengaruhi kaumnya, sehingga mereka patuh
kepadanya. Sungguh mereka adalah kaum yang fasik.” (QS. az-Zukhruf:54)
- Memecah Belah Rakyat
Setelah
membodohi kaumnya Fir’aun menjadikan mereka berkelompok-kelompok. Rakyat tidak
dibiarkan bersatu dengan cara menyulut api kebencian dan perselisihan di antara
mereka. Pertikaian yang terjadi di masyarakat ini menyebabkan mereka lemah
sehingga tidak memiliki ikatan kuat untuk melawan dan memberontak.
“Sungguh,
Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya
berpecah belah, dia menindas segolongan dari mereka (Bani Israil), dia
menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak permpuan mereka.” (QS. al-Qashas:4)
- Tidak Mau Mendengar Pendapat Lain
Tidak
boleh ada yang berbeda pendapat dengan Fir’aun. Ketentuannya mutlak.
Perintahnya harus dilaksanakan tanpa pengecualian.
“Fir’aun
berkata, “Aku hanya mengemukakan kepadamu, apa yang aku pandang baik.” (QS. Ghofir:29).
- Menjauhkan Rakyat dari Kebenaran
Orang-orang
yang membangkitkan kesadaran atas kebenaran dan menegakkan keadilan di hadapan
masyarakat dilemahkan dan disiksa sebagai pelajaran bagi yang lain. Mereka juga
difitnah sebagai orang-orang yang merusak dan pengacau yang akan melenyapkan
adat dan budaya bangsa.
Dia
(Fir’aun) berkata,”Mengapa kamu beriman kepada Musa sebelum aku memberi izin
kepadamu? Sesungguhnya dia pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu. Nanti
kamu pasti akan tahu (akibat perbuatanmu). Pasti akan kupotong tangan dan
kakimu bersilang dan sungguh, akan aku salib kamu semuanya.” (QS. asy-Syuara:49)
“Mereka
(para pesihir) berkata, “ Sesungguhnya dua orang ini adalah pesihir yang hendak
mengusirmu (Fir’aun) dari negerimu dengan sihir mereka berdua, dan hendak
melenyapkan adat kebiasaanmu yang utama.” (QS.
Thaha:63).
Fir’aun
tidak ingin rakyatnya menjadi cerdas dan memiliki kesadaran karena takut
kekuasaannya akan digulingkan.
“Mereka
berkata, “apakah engkau datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa
(kepercayaan) yang kami dapati nenek moyang kami mengerjaknnya (menyembah
berhala), dan agar kalian berdua mempunyai kekuasaan di bumi (Mesir)? Kami
tidak mempercayai kalian berdua.”
(QS. Yunus:78).
- Memperbudak Manusia
Semua
manusia selain dirinya dan golongan yang dikehendakinya adalah budak yang tidak
memiliki hak bahkan atas diri mereka sendiri.
“Mereka
berkata, “Apakah (pantas) kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita,
padahal kaum mereka (Bani Israil) adalah orang-orang yang menghambakan diri
kepada kita?” (QS. al-Mukminun:47)
- Melakukan Kerusakan di Muka Bumi
Melakukan
kerusakan di muka bumi tidak bisa dilakukan seorang diri. Setidaknya ada tiga
penopang yang membuat kekuasaan dzalim terus berjalan yaitu pemimpin, ahli
strategi dan manajem serta penyandang dana yang kuat.
Pemimpin
adalah Fir’aun, ahli strategi dan manajemen adalah Haman dan konglomerat adalah
Qorun.
Kepada
Fir’aun, Haman, dan Qarun; lalu mereka berkata, “(Musa) itu seorang pesihir dan
pendusta.” (QS. Ghofir:24).
Al
Qur’an melihat orang yang memiliki harta kekayaan jauh lebih berbahaya karena
itu mendahulukan Qorun dari Fir’aun dan Haman.
“Dan
(juga) Qorun, Fir’aun, dan Haman.”
(QS. al-Ankabut:39)
- Mempunyai Penyihir (Dukun)
Di
setiap zaman ada orang-orang yang menyerupai penyihir yang menempel pada
kekuasaan. Mereka mendapat fasilitas mewah karena Fir’aun berharap kekuasaannya
bisa langgeng karena mereka.
“Dan
para pesihir datang kepada Fir’aun. Mereka berkata, “(Apakah) kami akan
mendapat imbalan, jika kami menang?” Dia (Fir’aun) menjawab, “Ya, bahkan kamu
pasti termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku).” (QS. Al-A’raf: 113-114).
- Mengaku sebagai Tuhan lalu Tuhan Yang Paling Tinggi
Fir’aun
merasa telah memiliki kekuasaan yang begitu luas karena itu ia tidak butuh
kepada siapapun dan tidak ada yang bisa menandinginya. Akhirnya ia dengan penuh
kesombongan mengaku sebagai Tuhan.
“Dan
Fir’aun berkata, “Wahai para pembesar kaumku! Aku tidak mengetahui ada Tuhan
bagimu selain aku.” (QS. al-Qashas:38)
Lalu
setelah berjalan 40 tahun Fir’aun mendeklarasikan dirinya sebagai Tuhan Yang
Maha Tinggi saat mengejar Musa dilautan yang terbelah.
“(Seraya)
berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (QS. an-Nazi’at:24).
Setelah
kata itu terucap Allah SWT murka dan menenggelamkannya saat mengejar Nabi Musa
AS. Fir’aun tahu bahwa ada Tuhan lain yang disebut Musa AS tapi dia berkata
bahwa dialah tuhan yang tinggi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar