Bila
merujuk pada Alquran, jelas sekali bahwa Fir’aun yang bertemu Nabi Musa hanya
satu orang. Ucapan Fir’aun kepada Nabi Musa As dalam ayat 18 Surat Asy Syu’ara
menunjukkan bahwa ia adalah figur yang sama, yang dahulu pernah mengasuh Nabi
Musa As.”
Salah
satu persoalan mendasar dari cara mengindentifikasi sosok Fir’aun pada masa
Nabi Musa As, adalah kepastian tentang waktu dan kronologinya. Perdebatan para
ilmuwan yang terlalu berlarut-larut terkait masalah ini, menjadikan studi
tentang Mesir Kuno (Egyptology) tidak bergerak secara progresif. Menurut Pearce
Paul Creasman, salah satu masalahnya, para arkeolog dan ilmuwan masih sungkan
untuk mengawinkan berbagai perspektif ilmiah yang mereka miliki untuk
mendeteksi bukti-bukti arkeologis tesebut.[1]
Salah
satu langkah yang sangat maju pernah dilakukan oleh Bronk Ramsey dan
kawan-kawan untuk menganalisa bukti arkelogis di Mesir, dengan menggunakan
analisis penanggalan radiokarbon yang komprehensif dan canggih.[2]
Hasilnya, mereka mampu dengan cukup presisi menentukan periodesasi kekuasaan
setiap raja yang pernah memerintah Mesir dari Periode Kerajaan Baru (1539 –
1077 SM) atau dari Dinasti ke-18 hingga seterusnya. Hal lain yang cukup
mengesankan, masyarakat Mesir kuno memulai penanggalan berdasarkan masa jabatan
para rajanya. Sehingga upaya untuk mengindentifikasi periode kekuasaan setiap
raja, cukup hanya dengan melakukan analisa melalui sample peti mati dan jenazah
(mumi) mereka. Oleh sebab itu, analisa radiokarbon menjadi sangat berguna.
Hanya
saja, sedikit kelemahan dari terobosan yang dilakukan Bronk Ramsey dkk,
identifikasinya tidak valid 100%. Hampir mendekati, yaitu 95%, dengan
kemungkinan mengalami distorsi sekitar 24 tahun. Persoalannya, kurun waktu 24
tahun tersebut agak sulit untuk membantu memastikan secara tepat Fir’aun yang
bertemu dengan Nabi Musa As.[3]
Mengingat masa pemerintahan seorang raja Mesir Kuno, menurut hasil penelitian
Bronk Ramsey dkk, umumnya tak lebih dari 30 tahun. (Lihat Gambar)
Usia
kekuasaan raja-raja yang memerintah Dinasti ke-18 dan ke-20 di Mesir. Sumber
gambar: islamic-awareness.org
Bila
merujuk pada hasil penelitian ini, sangat wajar bila kemudian muncul asumsi
bahwa bukan tidak mungkin Nabi Musa bertemu beberapa Fir’aun dalam hidupnya.
Dengan kata lain, Fir’aun yang bertemu Nabi Musa ketika bayi, berbeda dengan
Fir’aun yang akhirnya tenggelam di Laut Merah.
Namun
bila kita merujuk pada Alquran, jelas sekali bahwa Fir’aun yang dibertemu
dengan Nabi Musa adalah satu orang. Hal ini terlihat pada Surat al-Qashash,
ayat 7-9, Allah SWT berfirman:
“7.
Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah Dia, dan apabila kamu khawatir
terhadapnya Maka jatuhkanlah Dia ke sungai (Nil). dan janganlah kamu khawatir
dan janganlah (pula) bersedih hati, karena Sesungguhnya Kami akan
mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari Para rasul;
8. Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir’aun yang akibatnya Dia menjadi
musuh dan Kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir’aun dan Haman beserta tentaranya
adalah orang-orang yang bersalah; 9. Dan berkatalah isteri Fir’aun:
“(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. janganlah kamu membunuhnya,
Mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”,
sedang mereka tiada menyadari.” (Al-Qashash: 7-9)
Pada
ayat 8 Surat Al-Qashash tersebut jelas sekali bahwa anak yang dipungut oleh
istri Fir’aun adalah orang yang kelak akan menjadi musuh dan kesedihan bagi
mereka. Pernyataan dalam Surat Al-Qashash ini kemudian terkonfirmasi oleh dalam
Surat Asy Syu’ara: 18-22, yang berbunyi:
“Fir’aun
menjawab: “Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu
masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu. Dan
kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu
termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas guna”. Berkata Musa: “Aku
telah melakukannya, sedang aku di waktu itu termasuk orang-orang yang khilaf.
Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepadamu, kemudian Tuhanku
memberikan kepadaku ilmu serta Dia menjadikanku salah seorang di antara
rasul-rasul. Budi yang kamu limpahkan kepadaku itu adalah (disebabkan) kamu
telah memperbudak Bani Israil“. (QS. Asy Syu’ara: 18-22)
Dengan
demikian, bila merujuk pada Alquran, jelas sekali bahwa Fir’aun yang bertemu
Nabi Musa hanya satu orang. Ucapan Fir’aun kepada Nabi Musa As dalam ayat 18
Surat Asy Syu’ara menunjukkan bahwa ia adalah figur yang sama, yang dahulu
pernah mengasuh Nabi Musa As. (AL)
Bersambung…
Sebelumnya:
Catatan
kaki:
[1] Lihat, Pearce Paul Creasman, Tree-Ring And The Chronology
of Ancient Egypt, Radiocarbon, Vol 56, Nr 4, 2014, p S85–S92DOI: http://dx.doi.org/10.2458/azu_rc.56.18324 © 2014 by the Arizona Board of Regents
[2] Penanggalan radiokarbon adalah sebuah metode penanggalan radiometrik
yang menggunakan isotope karbon-14 (14C) untuk menentukan usia
material bahan organik (karbonaseous) dengan batasan sampai sekitar
60.000 tahun “sebelum sekarang” (atau diistilahkan “Before Present”, disingkat
BP, di mana “sekarang” didefinisikan sebagai tahun 1950. Teknik ini ditemukan
oleh Willard Libby dan koleganya yang diperkenalkan kepada publik pada tahun
1949 selama jabatannya sebagai profesor di Universitas Chicago. Berkat
penemuannya ini, ia mendapatkan Hadiah Nobel untuk Kimia pada tahun 1960.
Lihat, https://id.wikipedia.org/wiki/Penanggalan_radiokarbon, diakses 27 April 2018
[3] Pearce Paul Creasman, pada tahun 2014, melalui jurnal
internasionalnya, mengajukan solusi untuk meningkatkan validitas kronologi yang
sudah dicapai oleh ilmuwan sejauh ini dengan menggunakan analisis cincin kayu
yang dipakai mumi dan menjadi bagian dari artefak di makam-makam Raja Mesir
Kuno. Namun kita belum mendapatkan informasi tentang apakah solusi ini
digunakan atau tidak. Lihat, Pearce Paul Creasman, Op Cit
Tidak ada komentar:
Posting Komentar